13 Mei 2014

Akhir-akhir ini saya sering menerima pesan di ponsel maupun sosmed yang kebanyakan adalah rekan kuliah, baik itu satu angkatan maupun adik angkatan. Masih berhubungan dengan artikel beberapa waktu yang lalu dengan judul Sarjana Pendidikan Banting setir ke Dunia Pertambangan, pada umumnya mereka bertanya bagaimana kiat untuk menembus dunia kepersonaliaan atau manajemen SDM yang kerap dikenal sebagai HRD. Jujur, bingung sebenarnya mau menjawab bagaimana. Karena pada dasarnya mungkin ini bisa dikatakan sebagai kolaborasi antara anugerahNya dan sedikit sentuhan “Luck”.  Bahkan hingga sampai saat inipun saya sendiri masih heran bagaimana ceritanya saya bisa lolos, ketika mengingat bahwa para pesaing saya waktu itu adalah sarjana-sarjana Psikologi dari beberapa Universitas ternama. Aaah,udah jiper duluan bro.. Semakin heran ketika pengumuman akhir hanya meloloskan 2 orang untuk posisi HR Group Leader, saya sendiri dan salah satu kawan dari kampus “tetangga sebelah” yaitu Universitas Gedung Manten. Itu lho, yang auditoriumnya sering dipake mantenan (nikahan). Hahaa..itu plesetan buat Universitas Gadjah Mada. Yap, kawan saya itu lulusan Manajemen Kehutanan UGM. Lebih unik lagi bukan? Sedangkan saya sendiri Sarjana Pendidikan dengan disiplin ilmu Bimbingan dan Konseling cetakan UNY.

Diantara kegembiraan dan syukur yang memuncak, hati ini masih bertanya-tanya “Faktor apakah yang membuat kami bisa lolos?”. Ternyata eh ternyata, setelah dijelaskan oleh Mas Ihsan Cabul selaku Recruitment Officer bahwasanya parameter tes psikologi yang dia gunakan itu bertujuan melihat potensi seseorang untuk ditempatkan di suatu posisi tertentu. Potensi tersebut dilihat dari berbagai macam sudut pandang, mulai dari ketahanan terhadap pressure, kemampuan menerima dan melakukan hal yang baru, kemampuan analisis, dsb sehingga ditemukan kesimpulan layak atau tidak layak untuk diterima. Ya, hanya berbekal tools tes psikologi tersebut, seorang Recruiter bisa menganalisa dan memetakan calon karyawan yang akan diterimanya beserta kiat-kiat untuk mengembangkannya, karena tiap individu memang dilahirkan unik dan be rbeda antara satu dengan yang lainnya. 

So? Apa yang harus dilakukan saat mengikuti psikotes dan atau semacamnya? Haruskah melahap habis buku-buku latihan psikotes yang sekarang banyak dijual bebas di pasaran? Hmm..tidak juga, sebenarnya simple saja, cukup jadi diri sendiri dan let it flow.. Karena yang sebenarnya dibutuhkan oleh recruiter adalah orisinalitas kepribadian yang diinterpretasikan dalam psikotest. Bayangkan saja bagaimana ketika 100 orang peserta tes membaca buku psikotest dan kesemuanya menjawab dengan sama persis. Tapi bukan berarti tidak boleh latihan ya.. yang saya maksud adalah jangan sampai menjawab semua soal dengan jawaban yang sama persis dengan kunci jawaban psikotes, terutama untuk tes yang sifatnya menggambarkan kepribadian diri anda.

Oke, lalu apa yang harus dilakukan untuk mengejar posisi pekerjaan yang diimpikan? 

Yang jelas dan yang pasti, langkah pertama kita memang harus aktif mencari informasi dan apply sana-sini sehingga ketika satu gagal masih ada seribu yang lainnya. FYI, ada lebih dari 30 kali saya apply, yang lolos administration screening hingga psikotes ada sekitar 20an, dan yang bisa sampai tembus level interview user atau direksi hanya di kisaran 5 perusahaan saja. Jadi intinya jangan hanya menggantungkan harapan pada 1 lowongan saja. Dalam proses apply juga jangan sembarangan, sesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki dan juga persyaratan yang diajukan oleh Perusahaan. Ada pertanyaan dari salah seorang adik tingkat “bagaimana dengan perusahaan yang memberi syarat minimal pengalaman 1 tahun? Sedangkan saya fresh graduate.” Oke, saya juga pernah merisaukan hal tersebut saat masih mondar-mandir sebagai jobseeker. Setelah saya masuk dalam dunia kerja, akhirnya saya pahami bahwa fresh graduate masih dipertimbangkan untuk dapat melamar di posisi yang mensyaratkan one years experience. Karena pengalaman kerja satu tahun masih dianggap baru memahami jobdesc­-nya secara general saja. 

Dalam membuat surat lamaran kerja, jangan sampai menggunakan 1 master template untuk semua lamaran, sesuaikan dengan posisi dan profil perusahaan yang akan dituju. Kemudian untuk penyusunan CV buatlah semenarik mungkin karena CV adalah representasi profil diri kita. Jangan sampai membuat CV terlalu banyak hingga berlembar-lembar. Ingat, recruiter tidak hanya menyeleksi satu dua CV saja tetapi banyak. Sehingga ketika informasi yang kita sampaikan singkat, padat, jelas dan menarik akan membuat recruiter mudah memahami diri kita. Sebenarnya untuk CV tidak ada aturan atau format baku, yang jelas tuliskan semua informasi yang kemungkinan dibutuhkan oleh perusahaan yang menyeleksi anda. Jangan masukkan hal-hal yang dirasa “kurang penting” atau tidak relevan. Misalnya saja dalam kolom prestasi anda menyebutkan bahwa anda pernah menjadi siswa teladan tingkat SMA se kabupaten. Hal ini mungkin membanggakan bagi anda, tapi ada baiknya jika dicantumkan saja prestasi yang anda raih dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dengan pembuatan CV anda, misalnya prestasi sebagai mahasiswa berprestasi saat kuliah. Meskipun anda memiliki segudang prestasi semasa kuliah, cantumkan saja prestasi yang anda kira layak dan bisa menaikkan “harga jual” anda di mata perusahaan.

Selanjutnya persiapkan diri untuk mengikuti rangkaian tes dengan cara mencari informasi profil perusahaan, bergerak di bidang apa, dan juga gambaran umum pekerjaan dari posisi yang kita lamar tersebut. Sungguh sangat tidak lucu ketika kita melamar sebuah posisi yang kita sendiri tidak mengetahui garis besar pekerjaannya. Selain itu latihan teratur untuk mempertajam kemampuan berkomunikasi juga sangat diperlukan, seperti body language, pemilihan kosakata, serta intonasi dalam penyampaian pesan. Karena dengan membangun komunikasi yang baik dan meyakinkan akan mudah membuat kita diperhitungkan untuk diterima, komunikasi yang baik dan mengena akan sangat membantu kita dalam menciptakan personal branding kita di mata orang lain, terutama interviewer. Tapi disini bukan berarti menggombal atau mengobral kata-kata surgawi yang menyejukkan, melainkan harus benar-benar real.

Sedangkan untuk kawan-kawan jurusan Bimbingan dan Konseling, perlu pula anda sampaikan bahwa anda memiliki kemampuan dalam hal konseling, pengembangan karyawan, coaching, dan hal-hal lain yang memang menjadi kelebihan konselor. Yakinkan dengan memberi alasan mengapa seorang konselor pantas diperhitungkan untuk diberi pekerjaan yang bertugas menangani permasalahan karyawan. Memang kita bukan ahli psikologi yang mengerti dan menguasai seluk beluk alat tes psikologi, ataupun juga bukan praktisi hukum yang hapal di luar kepala tentang peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan, tapi kita bisa membantu perusahaan dalam hal coaching, counseling dan people development yang ditujukan bagi karyawan. Kita digembleng 4 tahun untuk mempelajari hal tersebut bukan? Ada yang protes dengan statement ini, dia mengatakan “Tapi kan kita fokusnya untuk siswa dalam dunia pendidikan”. Kawan, ilmu bimbingan & konseling itu sangatlah luwes dan bisa diterapkan dalam setiap bidang. Bisa diterapkan di dunia pendidikan, dalam keluarga untuk pola pengasuhan anak, dalam bermasyarakat dan dalam kegiatan usaha. Bahkan ada kawan senior di IMABKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Indonesia) dari Universitas Negeri Malang yang sukses menerapkan ilmu Bimbingan dan Konselingnya dalam kegiatan wirausahanya. Bahkan sekarang kawan tersebut sudah memiliki toko oleh-oleh di daerah Batu dan juga usaha travel. Nah loh.. jadi jangan minder dulu..

Yap, kurang lebih begitu kira-kiranya. Good Luck..

Sekelumit Kiat Menembus Dunia Kerja

Posted at  5/13/2014 02:44:00 PM  |  in  Tips dan Trik  |  Read More»

Akhir-akhir ini saya sering menerima pesan di ponsel maupun sosmed yang kebanyakan adalah rekan kuliah, baik itu satu angkatan maupun adik angkatan. Masih berhubungan dengan artikel beberapa waktu yang lalu dengan judul Sarjana Pendidikan Banting setir ke Dunia Pertambangan, pada umumnya mereka bertanya bagaimana kiat untuk menembus dunia kepersonaliaan atau manajemen SDM yang kerap dikenal sebagai HRD. Jujur, bingung sebenarnya mau menjawab bagaimana. Karena pada dasarnya mungkin ini bisa dikatakan sebagai kolaborasi antara anugerahNya dan sedikit sentuhan “Luck”.  Bahkan hingga sampai saat inipun saya sendiri masih heran bagaimana ceritanya saya bisa lolos, ketika mengingat bahwa para pesaing saya waktu itu adalah sarjana-sarjana Psikologi dari beberapa Universitas ternama. Aaah,udah jiper duluan bro.. Semakin heran ketika pengumuman akhir hanya meloloskan 2 orang untuk posisi HR Group Leader, saya sendiri dan salah satu kawan dari kampus “tetangga sebelah” yaitu Universitas Gedung Manten. Itu lho, yang auditoriumnya sering dipake mantenan (nikahan). Hahaa..itu plesetan buat Universitas Gadjah Mada. Yap, kawan saya itu lulusan Manajemen Kehutanan UGM. Lebih unik lagi bukan? Sedangkan saya sendiri Sarjana Pendidikan dengan disiplin ilmu Bimbingan dan Konseling cetakan UNY.

Diantara kegembiraan dan syukur yang memuncak, hati ini masih bertanya-tanya “Faktor apakah yang membuat kami bisa lolos?”. Ternyata eh ternyata, setelah dijelaskan oleh Mas Ihsan Cabul selaku Recruitment Officer bahwasanya parameter tes psikologi yang dia gunakan itu bertujuan melihat potensi seseorang untuk ditempatkan di suatu posisi tertentu. Potensi tersebut dilihat dari berbagai macam sudut pandang, mulai dari ketahanan terhadap pressure, kemampuan menerima dan melakukan hal yang baru, kemampuan analisis, dsb sehingga ditemukan kesimpulan layak atau tidak layak untuk diterima. Ya, hanya berbekal tools tes psikologi tersebut, seorang Recruiter bisa menganalisa dan memetakan calon karyawan yang akan diterimanya beserta kiat-kiat untuk mengembangkannya, karena tiap individu memang dilahirkan unik dan be rbeda antara satu dengan yang lainnya. 

So? Apa yang harus dilakukan saat mengikuti psikotes dan atau semacamnya? Haruskah melahap habis buku-buku latihan psikotes yang sekarang banyak dijual bebas di pasaran? Hmm..tidak juga, sebenarnya simple saja, cukup jadi diri sendiri dan let it flow.. Karena yang sebenarnya dibutuhkan oleh recruiter adalah orisinalitas kepribadian yang diinterpretasikan dalam psikotest. Bayangkan saja bagaimana ketika 100 orang peserta tes membaca buku psikotest dan kesemuanya menjawab dengan sama persis. Tapi bukan berarti tidak boleh latihan ya.. yang saya maksud adalah jangan sampai menjawab semua soal dengan jawaban yang sama persis dengan kunci jawaban psikotes, terutama untuk tes yang sifatnya menggambarkan kepribadian diri anda.

Oke, lalu apa yang harus dilakukan untuk mengejar posisi pekerjaan yang diimpikan? 

Yang jelas dan yang pasti, langkah pertama kita memang harus aktif mencari informasi dan apply sana-sini sehingga ketika satu gagal masih ada seribu yang lainnya. FYI, ada lebih dari 30 kali saya apply, yang lolos administration screening hingga psikotes ada sekitar 20an, dan yang bisa sampai tembus level interview user atau direksi hanya di kisaran 5 perusahaan saja. Jadi intinya jangan hanya menggantungkan harapan pada 1 lowongan saja. Dalam proses apply juga jangan sembarangan, sesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki dan juga persyaratan yang diajukan oleh Perusahaan. Ada pertanyaan dari salah seorang adik tingkat “bagaimana dengan perusahaan yang memberi syarat minimal pengalaman 1 tahun? Sedangkan saya fresh graduate.” Oke, saya juga pernah merisaukan hal tersebut saat masih mondar-mandir sebagai jobseeker. Setelah saya masuk dalam dunia kerja, akhirnya saya pahami bahwa fresh graduate masih dipertimbangkan untuk dapat melamar di posisi yang mensyaratkan one years experience. Karena pengalaman kerja satu tahun masih dianggap baru memahami jobdesc­-nya secara general saja. 

Dalam membuat surat lamaran kerja, jangan sampai menggunakan 1 master template untuk semua lamaran, sesuaikan dengan posisi dan profil perusahaan yang akan dituju. Kemudian untuk penyusunan CV buatlah semenarik mungkin karena CV adalah representasi profil diri kita. Jangan sampai membuat CV terlalu banyak hingga berlembar-lembar. Ingat, recruiter tidak hanya menyeleksi satu dua CV saja tetapi banyak. Sehingga ketika informasi yang kita sampaikan singkat, padat, jelas dan menarik akan membuat recruiter mudah memahami diri kita. Sebenarnya untuk CV tidak ada aturan atau format baku, yang jelas tuliskan semua informasi yang kemungkinan dibutuhkan oleh perusahaan yang menyeleksi anda. Jangan masukkan hal-hal yang dirasa “kurang penting” atau tidak relevan. Misalnya saja dalam kolom prestasi anda menyebutkan bahwa anda pernah menjadi siswa teladan tingkat SMA se kabupaten. Hal ini mungkin membanggakan bagi anda, tapi ada baiknya jika dicantumkan saja prestasi yang anda raih dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dengan pembuatan CV anda, misalnya prestasi sebagai mahasiswa berprestasi saat kuliah. Meskipun anda memiliki segudang prestasi semasa kuliah, cantumkan saja prestasi yang anda kira layak dan bisa menaikkan “harga jual” anda di mata perusahaan.

Selanjutnya persiapkan diri untuk mengikuti rangkaian tes dengan cara mencari informasi profil perusahaan, bergerak di bidang apa, dan juga gambaran umum pekerjaan dari posisi yang kita lamar tersebut. Sungguh sangat tidak lucu ketika kita melamar sebuah posisi yang kita sendiri tidak mengetahui garis besar pekerjaannya. Selain itu latihan teratur untuk mempertajam kemampuan berkomunikasi juga sangat diperlukan, seperti body language, pemilihan kosakata, serta intonasi dalam penyampaian pesan. Karena dengan membangun komunikasi yang baik dan meyakinkan akan mudah membuat kita diperhitungkan untuk diterima, komunikasi yang baik dan mengena akan sangat membantu kita dalam menciptakan personal branding kita di mata orang lain, terutama interviewer. Tapi disini bukan berarti menggombal atau mengobral kata-kata surgawi yang menyejukkan, melainkan harus benar-benar real.

Sedangkan untuk kawan-kawan jurusan Bimbingan dan Konseling, perlu pula anda sampaikan bahwa anda memiliki kemampuan dalam hal konseling, pengembangan karyawan, coaching, dan hal-hal lain yang memang menjadi kelebihan konselor. Yakinkan dengan memberi alasan mengapa seorang konselor pantas diperhitungkan untuk diberi pekerjaan yang bertugas menangani permasalahan karyawan. Memang kita bukan ahli psikologi yang mengerti dan menguasai seluk beluk alat tes psikologi, ataupun juga bukan praktisi hukum yang hapal di luar kepala tentang peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan, tapi kita bisa membantu perusahaan dalam hal coaching, counseling dan people development yang ditujukan bagi karyawan. Kita digembleng 4 tahun untuk mempelajari hal tersebut bukan? Ada yang protes dengan statement ini, dia mengatakan “Tapi kan kita fokusnya untuk siswa dalam dunia pendidikan”. Kawan, ilmu bimbingan & konseling itu sangatlah luwes dan bisa diterapkan dalam setiap bidang. Bisa diterapkan di dunia pendidikan, dalam keluarga untuk pola pengasuhan anak, dalam bermasyarakat dan dalam kegiatan usaha. Bahkan ada kawan senior di IMABKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Indonesia) dari Universitas Negeri Malang yang sukses menerapkan ilmu Bimbingan dan Konselingnya dalam kegiatan wirausahanya. Bahkan sekarang kawan tersebut sudah memiliki toko oleh-oleh di daerah Batu dan juga usaha travel. Nah loh.. jadi jangan minder dulu..

Yap, kurang lebih begitu kira-kiranya. Good Luck..

27 April 2014

Aku tak tahu kapan kau pelukku kembali..
ingatkah..kau tersenyum curiga saat aku menutup kedua matamu
kau selalu bertutur lembut,
dengan sayangmu kau bilang “cintaku..”

kau berusaha menutup kepalaku dengan tangan lembutmu
di saat mentari tepat berada di atas kita
atau di saat rinai hujan jatuh pada pelupuk bumi
selalu kau lakukan itu..
padahal kau harus berusaha meninggikan kakimu,
baru kau bisa menutup kepalaku..
selalu kau bilang “jangan sakit cintaku..”

seringkali kau korbankan waktumu
hanya untuk mendengarkanku berbicara
memperhatikan segala keluh kesahku
atau sekedar menemaniku lalu lalang kesana kemari..
selalu kau bilang padaku, “aku ingin ada untukmu..”

saat aku jatuh sakit
tak peduli  sesibuk apa dirimu
kau pasti menyempatkan waktu untukku
selalu kau bilang “cepat sembuh ya..”

kau selalu memintaku mensyukuri apa yang di berikan Allah
jika aku lupa, kedua alismu bertemu..
sembari menatap tajam kau katakan  “jangan sombong ya..”
selalu begitu..
selalu begitu..
betapa baiknya dirmu..

tapi di satu sisi
aku sering mengabaikanmu..
tak terhitung berapa puluh kali ku kecewakanmu..
atau menyakitimu..

di balik tegarmu kau sembunyikan kekecewaanmu..
di balik senyummu kau simpan amarahmu..
di balik perhatianmu kau buang sedihmu..

Ya Allah..
apa yang terjadi pada diriku?
pergi kemana akal sehatku?
dimana kubuang otak warasku?
hingga begitu tega membuatnya terluka..
mengoyak hati dan merobek asa yang ada di dadanya..

masihkah ada waktu untuk diriku
memperbaiki semuanya..
menjadi yang terbaik baginya..
aku yakin harapan itu masih ada..

adinda..
mataku ingin melihat senyummu kembali tersungging di bibir manismu
telingaku ingin mendengar celoteh riangmu tentang masa depan kita
dan otakku ingin terus merekam memori kita berdua
aku ingin mewujudkan mimpi kita bersama..
hanya bersamamu..
izinkan aku..

tunggu aku sayang..
aku pergi karena tugas
dan pulang karena cinta



di atas cakrawala Indonesia, Lion Air JT 668 rute Jogjakarta-Balikpapan, 20 April 2014.

Sajak Adinda

Posted at  4/27/2014 05:58:00 PM  |  in  Celoteh  |  Read More»

Aku tak tahu kapan kau pelukku kembali..
ingatkah..kau tersenyum curiga saat aku menutup kedua matamu
kau selalu bertutur lembut,
dengan sayangmu kau bilang “cintaku..”

kau berusaha menutup kepalaku dengan tangan lembutmu
di saat mentari tepat berada di atas kita
atau di saat rinai hujan jatuh pada pelupuk bumi
selalu kau lakukan itu..
padahal kau harus berusaha meninggikan kakimu,
baru kau bisa menutup kepalaku..
selalu kau bilang “jangan sakit cintaku..”

seringkali kau korbankan waktumu
hanya untuk mendengarkanku berbicara
memperhatikan segala keluh kesahku
atau sekedar menemaniku lalu lalang kesana kemari..
selalu kau bilang padaku, “aku ingin ada untukmu..”

saat aku jatuh sakit
tak peduli  sesibuk apa dirimu
kau pasti menyempatkan waktu untukku
selalu kau bilang “cepat sembuh ya..”

kau selalu memintaku mensyukuri apa yang di berikan Allah
jika aku lupa, kedua alismu bertemu..
sembari menatap tajam kau katakan  “jangan sombong ya..”
selalu begitu..
selalu begitu..
betapa baiknya dirmu..

tapi di satu sisi
aku sering mengabaikanmu..
tak terhitung berapa puluh kali ku kecewakanmu..
atau menyakitimu..

di balik tegarmu kau sembunyikan kekecewaanmu..
di balik senyummu kau simpan amarahmu..
di balik perhatianmu kau buang sedihmu..

Ya Allah..
apa yang terjadi pada diriku?
pergi kemana akal sehatku?
dimana kubuang otak warasku?
hingga begitu tega membuatnya terluka..
mengoyak hati dan merobek asa yang ada di dadanya..

masihkah ada waktu untuk diriku
memperbaiki semuanya..
menjadi yang terbaik baginya..
aku yakin harapan itu masih ada..

adinda..
mataku ingin melihat senyummu kembali tersungging di bibir manismu
telingaku ingin mendengar celoteh riangmu tentang masa depan kita
dan otakku ingin terus merekam memori kita berdua
aku ingin mewujudkan mimpi kita bersama..
hanya bersamamu..
izinkan aku..

tunggu aku sayang..
aku pergi karena tugas
dan pulang karena cinta



di atas cakrawala Indonesia, Lion Air JT 668 rute Jogjakarta-Balikpapan, 20 April 2014.

Siapa yang tak kenal Pulau Kalimantan? Salah satu dari gugusan pulau di Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas. Pulau ini dikenal juga dengan sebutan Borneo. Luasnya ± 748.168.1 kilometer persegi. Dengan luas tersebut sebagian besarnya masih berupa hutan yang masih alami. Bisa dibilang pulau Kalimantan ini Amazonnya Indonesia, karena masih banyak daerah-daerah yang belum terjamah manusia. Jadi wajar saja hingga saat ini banyak ilmuwan menemukan spesies flora dan fauna baru di Kalimantan, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang unik atau aneh. Belum lama ini ditemukan  spesies katak satu-satunya di dunia yang tidak berparu-paru dan bernapas seluruhnya melalui kulit. Ada lagi jenis siput Ibycus Rachelae. Siput ini adalah yang paling unik dari seluruh penemuan terbaru. Selain warnanya yang hijau kekuning-kuningan, siput ini juga memiliki ekor yang panjang. Wow, it’s so amazing..

 Ibycus Rachelae

Kalimantan juga tidak lepas dari sejarah pergerakan kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di negeri ini. Saat Majapahit masih berjaya di Nusantara, seperti tercantum dalam Kakawin Nagarakertagama, Kalimantan termasuk dalam salah satu wilayah kekuasan Majapahit dengan sebutan Tanjung Nagara. Ibukota untuk daerah Tanjung Nagara adalah Tanjungpura. Begitu pula halnya saat kerajaan Singosari berkuasa, Tanjungpura ini menjadi ibukota provinsi untuk keseluruhan pulau Kalimantan dengan nama Bakulapura. Nama Bakula berasal dari bahasa sansekerta yang berarti bunga tanjung. 

Dalam imajinasi saya, Kalimantan a.ka. Borneo ini masih ndeso banget, primitif dan kaya di film-film besutan Hollywood yang mengambil setting tentang hutan Amazon, atau seperti liputan National Geographic maupun Discovery Channel. Serta tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan menginjakkan kaki di pulau tersebut. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Selama ini yang tersirat dalam anganku ketika kuliah adalah lulus, bekerja di Jogja (tapi kalau disuruh milih sich lebih pilih entrepreneur aja, tapi modalnya masih cekak #mewek) , bikin  rumah dan membangun keluarga bahagiaku bersama seorang gadis dengan akun twitter @pusparenii di Jogja pula. Kenapa Jogja? Next time akan saya jelaskan di postingan yang lain.. Hehee..

Back to the topic.. Kalau dirunut ke belakang kenapa saya bisa “terdampar” di Borneo adalah karena dapet sawah di sini. Macul maksudnya? Eiits..bukan macul.. Sawah di sini cuma istilah orang Jawa untuk menyebut sebuah lahan pekerjaan. Sebenarnya kalau mau dibilang macul boleh juga sich, tapi ini maculnya pake Excavator dan yang digali itu batu bara. Hehee.. Jadi ceritanya saya bekerja di salah satu perusahaan tambang batu bara di daerah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kalau anda yang kenal saya pasti memberondong saya dengan seabreg pertanyaan yang selama ini sering saya terima,  “Bukannya ente Sarjana Pendidikan? Gimana ceritanya kok bisa di tambang? Jadi guru di tambangkah?”. Bukan seperti itu kawan, Allah memberi rizki saya untuk jadi karyawan swasta di salah satu perusahaan kontraktor tambang batu bara. Memang pada awalnya agak pesimis ketika masih keluyuran cari pekerjaan dengan bermodalkan ijazah S1, apalagi ketika melihat realita banyaknya stock sarjana yang menjadi saingan dalam memperebutkan pekerjaan di Indonesia dewasa ini.

Berawal dari salah satu posting di KasKus – The LargestIndonesian Community, tentang lowongan pekerjaan di perusahaan ini melalui program FGDP (Fresh Graduate Development Program), yaitu sebuah program percepatan untuk mendevelop karyawan baru di level Staff yang memiliki kewajiban dan kewenangan manajerial, pengambilan keputusan, serta mengkondisikan karyawan di bawahnya untuk mencapai tujuan perusahaan. Tebak-tebak berhadiahpun dimulai dari mengirim CV & surat lamaran, psikotes & interview HRD, interview user, interview direksi dan yang terakhir adalah tes kesehatan (Medical Check Up). Proses seleksi ini berlangsung kurang lebih 2 bulan, bertempat di kantor pusatnya yang berada di Kota Harapan Indah, Bekasi Barat. Sedangkan domisili (baca : nge-kost) pasca kuliah waktu itu masih di Jogja, alhasil setiap akan tes saya menjadi seorang Roker (rombongan kereta, sebutan untuk mereka yang suka menggunakan moda transportasi kereta api). Bila jadwal tes esok hari, maka sore ini saya berangkat ke Bekasi dengan kereta api. Sore setelah tespun langsung pulang ke Jogja dengan kereta api. Sungguh proses yang cukup melelahkan, namun terobati ketika sudah menginjakkan kaki di kota Jogja. Dan Alhamdulillah, seluruh tahapan tes berakhir dengan lancar sehingga masuklah saya ke dunia tambang.

 Suasana di Jobsite Office

Sempat muncul keragu-raguan dalam hati ketika mendapat pengumuman bahwa saya lolos dan akan segera “dipaketkan” ke Kalimantan. Namun keraguan ini berhasil saya tepis setelah berdiskusi cukup panjang dengan orang tua, kekasih dan juga beberapa teman, akhirnya saya ambil juga tantangan itu. Training di kantor pusat dari tanggal 8-18 April 2013, terbang ke Kalimantan tanggal 19 April 2013 dan masuk kerja perdana di tanggal 20 April 2013. Dan sekarang tak terasa satu tahun sudah saya berkarya di perusahaan ini. Semoga Allah memberkahi dan merahmati pekerjaan yang sedang saya jalani saat ini, hingga akhirnya impian-impian saya dan dia bisa terwujud. Aamiin..


Sejauh ini dalam hal pekerjaan saya cenderung menikmatinya, meskipun sebetulnya banyak sekali hal-hal baru yang belum pernah ditemui dan harus dipelajari. Hal tersebut terutama dalam hal Peraturan Perundang-undangan terkait ketenagakerjaan, hak dan kewajiban pekerja, Jamsostek, perhitungan upah, dan seabreg jobdesc yang lain. Di awal sempat pesimis dan ragu dengan kemampuan diri sendiri, apakah saya bisa belajar dan menangani pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya. Tapi saya yakin pada suatu pemikiran bahwa manusia diciptakan dengan dikaruniai anugerah daya nalar, dan dengan karunia tersebut maka tidak ada ilmu yang tidak bisa dipelajari. Meskipun memerlukan cukup waktu (baca : lambat banget) bagi saya hingga akhirnya bisa memahami dan melaksanakan tugas serta tanggung jawab di perusahaan ini hingga sampai saat ini. Yah, meski tak sesuai dengan jurusan yang ditempuh selama kuliah namun semua ini saya rasa patut untuk disyukuri karena tidak semua orang bisa diberi kesempatan seperti ini. Dan lagi menurut saya kuliah bukan untuk mencari pekerjaan yang sesuai, namun kuliah adalah proses melatih intuisi, nalar, pola pikir individu untuk siap menghadapi tantangan di dunia kerjanya nanti. Buat apa jika pekerjaan dan disiplin ilmunya linear tapi sama sekali tak berkompeten seperti yang kita temui di Indonesia dewasa ini?


Tulisan yang dibuat sejak awal merantau di Borneo, namun baru “sempat” terpublikasikan hampir satu tahun sesudahnya. #tepokjidat

Sarjana Pendidikan Banting Setir ke Dunia Pertambangan

Posted at  4/27/2014 05:29:00 PM  |  in  Celoteh  |  Read More»

Siapa yang tak kenal Pulau Kalimantan? Salah satu dari gugusan pulau di Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas. Pulau ini dikenal juga dengan sebutan Borneo. Luasnya ± 748.168.1 kilometer persegi. Dengan luas tersebut sebagian besarnya masih berupa hutan yang masih alami. Bisa dibilang pulau Kalimantan ini Amazonnya Indonesia, karena masih banyak daerah-daerah yang belum terjamah manusia. Jadi wajar saja hingga saat ini banyak ilmuwan menemukan spesies flora dan fauna baru di Kalimantan, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang unik atau aneh. Belum lama ini ditemukan  spesies katak satu-satunya di dunia yang tidak berparu-paru dan bernapas seluruhnya melalui kulit. Ada lagi jenis siput Ibycus Rachelae. Siput ini adalah yang paling unik dari seluruh penemuan terbaru. Selain warnanya yang hijau kekuning-kuningan, siput ini juga memiliki ekor yang panjang. Wow, it’s so amazing..

 Ibycus Rachelae

Kalimantan juga tidak lepas dari sejarah pergerakan kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di negeri ini. Saat Majapahit masih berjaya di Nusantara, seperti tercantum dalam Kakawin Nagarakertagama, Kalimantan termasuk dalam salah satu wilayah kekuasan Majapahit dengan sebutan Tanjung Nagara. Ibukota untuk daerah Tanjung Nagara adalah Tanjungpura. Begitu pula halnya saat kerajaan Singosari berkuasa, Tanjungpura ini menjadi ibukota provinsi untuk keseluruhan pulau Kalimantan dengan nama Bakulapura. Nama Bakula berasal dari bahasa sansekerta yang berarti bunga tanjung. 

Dalam imajinasi saya, Kalimantan a.ka. Borneo ini masih ndeso banget, primitif dan kaya di film-film besutan Hollywood yang mengambil setting tentang hutan Amazon, atau seperti liputan National Geographic maupun Discovery Channel. Serta tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan menginjakkan kaki di pulau tersebut. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Selama ini yang tersirat dalam anganku ketika kuliah adalah lulus, bekerja di Jogja (tapi kalau disuruh milih sich lebih pilih entrepreneur aja, tapi modalnya masih cekak #mewek) , bikin  rumah dan membangun keluarga bahagiaku bersama seorang gadis dengan akun twitter @pusparenii di Jogja pula. Kenapa Jogja? Next time akan saya jelaskan di postingan yang lain.. Hehee..

Back to the topic.. Kalau dirunut ke belakang kenapa saya bisa “terdampar” di Borneo adalah karena dapet sawah di sini. Macul maksudnya? Eiits..bukan macul.. Sawah di sini cuma istilah orang Jawa untuk menyebut sebuah lahan pekerjaan. Sebenarnya kalau mau dibilang macul boleh juga sich, tapi ini maculnya pake Excavator dan yang digali itu batu bara. Hehee.. Jadi ceritanya saya bekerja di salah satu perusahaan tambang batu bara di daerah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kalau anda yang kenal saya pasti memberondong saya dengan seabreg pertanyaan yang selama ini sering saya terima,  “Bukannya ente Sarjana Pendidikan? Gimana ceritanya kok bisa di tambang? Jadi guru di tambangkah?”. Bukan seperti itu kawan, Allah memberi rizki saya untuk jadi karyawan swasta di salah satu perusahaan kontraktor tambang batu bara. Memang pada awalnya agak pesimis ketika masih keluyuran cari pekerjaan dengan bermodalkan ijazah S1, apalagi ketika melihat realita banyaknya stock sarjana yang menjadi saingan dalam memperebutkan pekerjaan di Indonesia dewasa ini.

Berawal dari salah satu posting di KasKus – The LargestIndonesian Community, tentang lowongan pekerjaan di perusahaan ini melalui program FGDP (Fresh Graduate Development Program), yaitu sebuah program percepatan untuk mendevelop karyawan baru di level Staff yang memiliki kewajiban dan kewenangan manajerial, pengambilan keputusan, serta mengkondisikan karyawan di bawahnya untuk mencapai tujuan perusahaan. Tebak-tebak berhadiahpun dimulai dari mengirim CV & surat lamaran, psikotes & interview HRD, interview user, interview direksi dan yang terakhir adalah tes kesehatan (Medical Check Up). Proses seleksi ini berlangsung kurang lebih 2 bulan, bertempat di kantor pusatnya yang berada di Kota Harapan Indah, Bekasi Barat. Sedangkan domisili (baca : nge-kost) pasca kuliah waktu itu masih di Jogja, alhasil setiap akan tes saya menjadi seorang Roker (rombongan kereta, sebutan untuk mereka yang suka menggunakan moda transportasi kereta api). Bila jadwal tes esok hari, maka sore ini saya berangkat ke Bekasi dengan kereta api. Sore setelah tespun langsung pulang ke Jogja dengan kereta api. Sungguh proses yang cukup melelahkan, namun terobati ketika sudah menginjakkan kaki di kota Jogja. Dan Alhamdulillah, seluruh tahapan tes berakhir dengan lancar sehingga masuklah saya ke dunia tambang.

 Suasana di Jobsite Office

Sempat muncul keragu-raguan dalam hati ketika mendapat pengumuman bahwa saya lolos dan akan segera “dipaketkan” ke Kalimantan. Namun keraguan ini berhasil saya tepis setelah berdiskusi cukup panjang dengan orang tua, kekasih dan juga beberapa teman, akhirnya saya ambil juga tantangan itu. Training di kantor pusat dari tanggal 8-18 April 2013, terbang ke Kalimantan tanggal 19 April 2013 dan masuk kerja perdana di tanggal 20 April 2013. Dan sekarang tak terasa satu tahun sudah saya berkarya di perusahaan ini. Semoga Allah memberkahi dan merahmati pekerjaan yang sedang saya jalani saat ini, hingga akhirnya impian-impian saya dan dia bisa terwujud. Aamiin..


Sejauh ini dalam hal pekerjaan saya cenderung menikmatinya, meskipun sebetulnya banyak sekali hal-hal baru yang belum pernah ditemui dan harus dipelajari. Hal tersebut terutama dalam hal Peraturan Perundang-undangan terkait ketenagakerjaan, hak dan kewajiban pekerja, Jamsostek, perhitungan upah, dan seabreg jobdesc yang lain. Di awal sempat pesimis dan ragu dengan kemampuan diri sendiri, apakah saya bisa belajar dan menangani pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya. Tapi saya yakin pada suatu pemikiran bahwa manusia diciptakan dengan dikaruniai anugerah daya nalar, dan dengan karunia tersebut maka tidak ada ilmu yang tidak bisa dipelajari. Meskipun memerlukan cukup waktu (baca : lambat banget) bagi saya hingga akhirnya bisa memahami dan melaksanakan tugas serta tanggung jawab di perusahaan ini hingga sampai saat ini. Yah, meski tak sesuai dengan jurusan yang ditempuh selama kuliah namun semua ini saya rasa patut untuk disyukuri karena tidak semua orang bisa diberi kesempatan seperti ini. Dan lagi menurut saya kuliah bukan untuk mencari pekerjaan yang sesuai, namun kuliah adalah proses melatih intuisi, nalar, pola pikir individu untuk siap menghadapi tantangan di dunia kerjanya nanti. Buat apa jika pekerjaan dan disiplin ilmunya linear tapi sama sekali tak berkompeten seperti yang kita temui di Indonesia dewasa ini?


Tulisan yang dibuat sejak awal merantau di Borneo, namun baru “sempat” terpublikasikan hampir satu tahun sesudahnya. #tepokjidat

15 Mei 2012

Sepeda pada awalnya melewati beberapa proses penemuan dan penyempurnaan di tahun 1980-an hingga era 1900-an. Hingga akhirnya seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan. Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh pedagang Belanda yang memboyong sepeda onthel produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi, hingga akhirnya sepeda jadi alat transportasi yang bergengsi. Namun kini sepeda onthel mulai ditinggalkan di Indonesia.
Onthelis di Belanda
Berbeda dengan Belanda, dari pantauan detik.com di Amsterdam, para pengguna sepeda di Belanda lebih senang menggunakan sepeda yang modelnya seperti onthel. Jarang sekali terlihat sepeda yang model terkini semacam sepeda lipat, fixie, dan sebagainya seperti yang sering terlihat di kota besar di Indonesia. Membaca liputan itu, saya bergumam, “Wah, sama seperti saya nih..”. Sejak masih sekolah di SD saya selalu menggunakan sepeda mini untuk bersekolah, dan saat SMP barulah saya menggunakan sepeda Gazelle peninggalan kakek saya untuk menuntut ilmu hingga lulus SMA. Kecintaan saya terhadap sepeda ini membuat saya penasaran dan tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang negara produsen utama Gazelle, yaitu Belanda.

Bersama salah satu koleksi sepeda kesayangan
Lalu bagaimana perkembangan sepeda di negara kreatif produsen utama sepeda Gazelle, Simplex, dan Batavus ini?? Menurut keterangan dari salah satu situs lokal, 62% perjalanan di negeri ini dilakukan dengan bersepeda. Woow!!

Jalur khusus Sepeda
Negeri Belanda merupakan salah satu surga bagi pengguna sepeda. Di negeri kincir angin tersebut, para pesepeda diperlakukan khusus oleh pemerintah. Siapapun bisa bersepeda dengan aman dan nyaman, karena terdapat jalur khusus untuk sepeda, seperti halnya jalur bus way di Indonesia. Di setiap jalan terdapat dua jalur sepeda untuk masing-masing arah. Seperti gambar di atas, jalur merah merupakan jalur khusus untuk sepeda. Selain itu, seperti halnya kendaraan lain, pengendara sepeda juga harus mematuhi rambu lalu lintas yang ada.. Karena difasilitasi secara serius maka jangan heran bila di setiap sudut terlihat sepeda berseliweran di jalan-jalan kota di Belanda, seperti di Amsterdam, Roterdam, Den Haag atau di desa kecil Wageningen. 

Dalam hal parkir sepeda pun Belanda sangat kreatif, Di kota Groningen terdapat tempat parkir bawah tanah di kawasan stasiun kereta api. Di sana terdapat ruangan tempat parkir untuk sekitar 2000 sepeda. Parkiran juga banyak ditemui di bantaran pagar-pagar sungai Amstel.

Parkir sepeda di pinggir pagar sungai Amstel
Pada bulan Agustus tahun lalu, kota Alphen aan den Rijn membuka The Fietsappel, fasilitas parkir sepeda dengan kapasitas 970 sepeda. The Fietsappel terletak di sebelah stasiun kereta api yang mempromosikan budaya intermodality yang begitu umum di Belanda. Dirancang oleh arsitek Wytze Patijn & Kuiper Compagnons. Untuk lantai utama berbentuk spiral dengan konstruksi baja memiliki diameter 27,5 meter dan tinggi 15,5 meter. Jalan di mana sepeda diparkir, dilindungi dalam sebuah spiral dengan bentuk mengkerucut. Kota ini memiliki penduduk sekitar 72.000 orang, jadi ada tempat untuk sekitar satu dari 25 warga untuk memarkir sepeda di dekat stasiun kereta api.

The Fietsappel pada malam hari
The Fietsappel dilihat dari dalam
So, mata memandang kemanapun, yang akan kita temui adalah orang-orang seliweran dengan sepedanya atau ribuan sepeda sedang diparkir di satu lokasi. Sungguh kreatif negara ini, meski terus berinovasi namun tidak meninggalkan gaya hidup sehat dan hemat. Dua kata untuk Belanda, luar biasa!!

Ik hou van fietsen in Nederland (Aku ingin "Ngonthel" di Belanda)

Posted at  5/15/2012 09:17:00 AM  |  in  Celoteh  |  Read More»

Sepeda pada awalnya melewati beberapa proses penemuan dan penyempurnaan di tahun 1980-an hingga era 1900-an. Hingga akhirnya seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan. Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh pedagang Belanda yang memboyong sepeda onthel produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi, hingga akhirnya sepeda jadi alat transportasi yang bergengsi. Namun kini sepeda onthel mulai ditinggalkan di Indonesia.
Onthelis di Belanda
Berbeda dengan Belanda, dari pantauan detik.com di Amsterdam, para pengguna sepeda di Belanda lebih senang menggunakan sepeda yang modelnya seperti onthel. Jarang sekali terlihat sepeda yang model terkini semacam sepeda lipat, fixie, dan sebagainya seperti yang sering terlihat di kota besar di Indonesia. Membaca liputan itu, saya bergumam, “Wah, sama seperti saya nih..”. Sejak masih sekolah di SD saya selalu menggunakan sepeda mini untuk bersekolah, dan saat SMP barulah saya menggunakan sepeda Gazelle peninggalan kakek saya untuk menuntut ilmu hingga lulus SMA. Kecintaan saya terhadap sepeda ini membuat saya penasaran dan tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang negara produsen utama Gazelle, yaitu Belanda.

Bersama salah satu koleksi sepeda kesayangan
Lalu bagaimana perkembangan sepeda di negara kreatif produsen utama sepeda Gazelle, Simplex, dan Batavus ini?? Menurut keterangan dari salah satu situs lokal, 62% perjalanan di negeri ini dilakukan dengan bersepeda. Woow!!

Jalur khusus Sepeda
Negeri Belanda merupakan salah satu surga bagi pengguna sepeda. Di negeri kincir angin tersebut, para pesepeda diperlakukan khusus oleh pemerintah. Siapapun bisa bersepeda dengan aman dan nyaman, karena terdapat jalur khusus untuk sepeda, seperti halnya jalur bus way di Indonesia. Di setiap jalan terdapat dua jalur sepeda untuk masing-masing arah. Seperti gambar di atas, jalur merah merupakan jalur khusus untuk sepeda. Selain itu, seperti halnya kendaraan lain, pengendara sepeda juga harus mematuhi rambu lalu lintas yang ada.. Karena difasilitasi secara serius maka jangan heran bila di setiap sudut terlihat sepeda berseliweran di jalan-jalan kota di Belanda, seperti di Amsterdam, Roterdam, Den Haag atau di desa kecil Wageningen. 

Dalam hal parkir sepeda pun Belanda sangat kreatif, Di kota Groningen terdapat tempat parkir bawah tanah di kawasan stasiun kereta api. Di sana terdapat ruangan tempat parkir untuk sekitar 2000 sepeda. Parkiran juga banyak ditemui di bantaran pagar-pagar sungai Amstel.

Parkir sepeda di pinggir pagar sungai Amstel
Pada bulan Agustus tahun lalu, kota Alphen aan den Rijn membuka The Fietsappel, fasilitas parkir sepeda dengan kapasitas 970 sepeda. The Fietsappel terletak di sebelah stasiun kereta api yang mempromosikan budaya intermodality yang begitu umum di Belanda. Dirancang oleh arsitek Wytze Patijn & Kuiper Compagnons. Untuk lantai utama berbentuk spiral dengan konstruksi baja memiliki diameter 27,5 meter dan tinggi 15,5 meter. Jalan di mana sepeda diparkir, dilindungi dalam sebuah spiral dengan bentuk mengkerucut. Kota ini memiliki penduduk sekitar 72.000 orang, jadi ada tempat untuk sekitar satu dari 25 warga untuk memarkir sepeda di dekat stasiun kereta api.

The Fietsappel pada malam hari
The Fietsappel dilihat dari dalam
So, mata memandang kemanapun, yang akan kita temui adalah orang-orang seliweran dengan sepedanya atau ribuan sepeda sedang diparkir di satu lokasi. Sungguh kreatif negara ini, meski terus berinovasi namun tidak meninggalkan gaya hidup sehat dan hemat. Dua kata untuk Belanda, luar biasa!!

19 Juli 2011

Menjadi pribadi yang independen adalah impian semua orang. Mereka yang independen atau mandiri dapat membangun dinasti bisnis, dinasti karakter serta dinasti keluarga yang mapan dan sejahtera. Selain dapat mensejahterakan dirinya, seorang yang mandiri dituntut kemampuannya untuk dapat menyejahterakan orang lain yang ada di sekitarnya. Mandiri merupakan kunci kesuksesan bagi sebagian besar orang, terutama Kompasianer dalam kegiatan menulis dan jurnalisme warga yang digeluti.

Satu ilustrasi yang cukup menarik, banyak tokoh dan elit negeri ini bicara tentang kemandirian bangsa, namun untuk mengedukasi masyarakat tentang kemandirian bangsa justru merupakan kontradiksi yang tak luput dari perhatian. Suatu gambaran konkret bahwa menjadi mandiri dibutuhkan karakter terbarukan. Tidak sekadar karakter lama sebagai pribadi yang menginginkan terwujudnya harapan tanpa ikhtiar.

Banyak sekali anak muda menginginkan diri mereka mandiri baik di dalam maupun di keluarga. Bicaranya tentu enak, namun kenyataan di lapangan mempraktekkan kemandirian ternyata tidak jauh berbeda dengan mengangkat beban berton-ton beratnya. Ngos-ngosan, tentu saja. Tujuannya, tentu saja karir yang mapan, keluarga yang bahagia, pribadi yang matang. Tolak ukurnya, kesejahteraan finansial.

Sedikit pengalaman tentang kemandirian, saya adalah salah satu Kompasianer muda yang cukup sulit menapaki kemandirian, sekalipun telah dipupuk sejak masih duduk di sekolah dasar. Saya adalah orang yang dulunya paling malas mencuci baju kotor sendiri, karena pembantu rumah tangga yang terbiasa mengurusi. Namun semakin dewasa saya perlu untuk melakukannya, dan akhirnya saya terbiasa. Begitu pula dengan mencuci piring, gelas dan alat makan.

Seorang teman berkata kepada saya demikian, “Josh, gue udah mandiri loh!” Saya terkaget-kaget, ternyata kemandirian yang dimaksud bukan karakternya, tetapi ia menunjukkan sebuah kartu ATM yang baru dimilikinya beberapa jam berselang. Lantas saya tahu bahwa ia baru saja menapaki kemandirian keuangan, namun batin saya tertawa karena kurang begitu yakin.

“Serius lo? Udah bisa cuci baju sendiri belom?” tukas saya setelahnya.

Gelak tawa saya pecah ketika seusai makan bersama di rumahnya, ia belum tahu bagaimana cara mencuci piring yang benar dan bersih. Masih ada sisa lemak di piringnya. Inikah yang dimaksud dengan kemandirian?

Hmmm… Tak sedikit muda-mudi sekarang terjebak dalam fatamorgana kemandirian yang diukur berdasarkan kemapanan finansial. Hal ini semata-mata untuk menaikkan pamor, atau tidak mau kalah dengan orangtuanya. Padahal, manajemen keuangan benar-benar beresiko dibanding manajemen diri yang sederhana, seperti membereskan tempat tidur atau disiplin dan tanggung jawab dalam menggunakan utilitas rumah, contohnya gunting, pisau atau solatip. Saya banyak menemukan hal ini di teman-teman saya. Umumnya mereka terperangkap dalam kemalasan, sekalipun uang jajannya membanjir di dompet.

Memang sebuah kontradiksi. Uang telah membutakan tanggung jawab dan disiplin seorang anak. Tapi apa mau dikata. Kasta-lah yang mengizinkan ini terjadi. Kalau saya jadi mereka, malu rasanya. Apalagi jika isteri di masa depan tahu boroknya saya yang dulunya pemalas. Bisa-bisa belum apa-apa sudah cerai karena tidak bisa membantu isteri menyelesaikan pekerjaan rumah. Iya, kan?

Semua dimulai dari, oleh dan untuk diri sendiri, termasuk untuk menjadi pribadi mandiri. Semoga muda-mudi yang bergairah dan penuh semangat tidak hanya berkutat di tempat tidur dengan gadget canggih saja. Kemandirian dapat dimulai dengan mengubah pola pikir, seperti kata Hazmi Srondol. Penulis novel komedi Srondol Gayus ke Italy ini berpendapat, pikiran selalu mendahului tindakan. Juga dibutuhkan ekstra kesabaran, waktu dan tenaga untuk meraih gelar “independen” sesungguhnya. (dari berbagai sumber)

Kemandirian: Bicaranya Enak, Mempraktikkannya Jauh Lebih Sulit

Posted at  7/19/2011 10:46:00 AM  |  in  Hikmah dan Motivasi  |  Read More»

Menjadi pribadi yang independen adalah impian semua orang. Mereka yang independen atau mandiri dapat membangun dinasti bisnis, dinasti karakter serta dinasti keluarga yang mapan dan sejahtera. Selain dapat mensejahterakan dirinya, seorang yang mandiri dituntut kemampuannya untuk dapat menyejahterakan orang lain yang ada di sekitarnya. Mandiri merupakan kunci kesuksesan bagi sebagian besar orang, terutama Kompasianer dalam kegiatan menulis dan jurnalisme warga yang digeluti.

Satu ilustrasi yang cukup menarik, banyak tokoh dan elit negeri ini bicara tentang kemandirian bangsa, namun untuk mengedukasi masyarakat tentang kemandirian bangsa justru merupakan kontradiksi yang tak luput dari perhatian. Suatu gambaran konkret bahwa menjadi mandiri dibutuhkan karakter terbarukan. Tidak sekadar karakter lama sebagai pribadi yang menginginkan terwujudnya harapan tanpa ikhtiar.

Banyak sekali anak muda menginginkan diri mereka mandiri baik di dalam maupun di keluarga. Bicaranya tentu enak, namun kenyataan di lapangan mempraktekkan kemandirian ternyata tidak jauh berbeda dengan mengangkat beban berton-ton beratnya. Ngos-ngosan, tentu saja. Tujuannya, tentu saja karir yang mapan, keluarga yang bahagia, pribadi yang matang. Tolak ukurnya, kesejahteraan finansial.

Sedikit pengalaman tentang kemandirian, saya adalah salah satu Kompasianer muda yang cukup sulit menapaki kemandirian, sekalipun telah dipupuk sejak masih duduk di sekolah dasar. Saya adalah orang yang dulunya paling malas mencuci baju kotor sendiri, karena pembantu rumah tangga yang terbiasa mengurusi. Namun semakin dewasa saya perlu untuk melakukannya, dan akhirnya saya terbiasa. Begitu pula dengan mencuci piring, gelas dan alat makan.

Seorang teman berkata kepada saya demikian, “Josh, gue udah mandiri loh!” Saya terkaget-kaget, ternyata kemandirian yang dimaksud bukan karakternya, tetapi ia menunjukkan sebuah kartu ATM yang baru dimilikinya beberapa jam berselang. Lantas saya tahu bahwa ia baru saja menapaki kemandirian keuangan, namun batin saya tertawa karena kurang begitu yakin.

“Serius lo? Udah bisa cuci baju sendiri belom?” tukas saya setelahnya.

Gelak tawa saya pecah ketika seusai makan bersama di rumahnya, ia belum tahu bagaimana cara mencuci piring yang benar dan bersih. Masih ada sisa lemak di piringnya. Inikah yang dimaksud dengan kemandirian?

Hmmm… Tak sedikit muda-mudi sekarang terjebak dalam fatamorgana kemandirian yang diukur berdasarkan kemapanan finansial. Hal ini semata-mata untuk menaikkan pamor, atau tidak mau kalah dengan orangtuanya. Padahal, manajemen keuangan benar-benar beresiko dibanding manajemen diri yang sederhana, seperti membereskan tempat tidur atau disiplin dan tanggung jawab dalam menggunakan utilitas rumah, contohnya gunting, pisau atau solatip. Saya banyak menemukan hal ini di teman-teman saya. Umumnya mereka terperangkap dalam kemalasan, sekalipun uang jajannya membanjir di dompet.

Memang sebuah kontradiksi. Uang telah membutakan tanggung jawab dan disiplin seorang anak. Tapi apa mau dikata. Kasta-lah yang mengizinkan ini terjadi. Kalau saya jadi mereka, malu rasanya. Apalagi jika isteri di masa depan tahu boroknya saya yang dulunya pemalas. Bisa-bisa belum apa-apa sudah cerai karena tidak bisa membantu isteri menyelesaikan pekerjaan rumah. Iya, kan?

Semua dimulai dari, oleh dan untuk diri sendiri, termasuk untuk menjadi pribadi mandiri. Semoga muda-mudi yang bergairah dan penuh semangat tidak hanya berkutat di tempat tidur dengan gadget canggih saja. Kemandirian dapat dimulai dengan mengubah pola pikir, seperti kata Hazmi Srondol. Penulis novel komedi Srondol Gayus ke Italy ini berpendapat, pikiran selalu mendahului tindakan. Juga dibutuhkan ekstra kesabaran, waktu dan tenaga untuk meraih gelar “independen” sesungguhnya. (dari berbagai sumber)

--
Copyright © 2009-2014 Blog Anak Desa. Blogger Template by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top