11 Januari 2010

Konseling Sekolah; Antara Tantangan dan Peluang

By Yogi Rahmantyo  |  1/11/2010 04:04:00 PM 1 comment

Dewasa ini telah ditetapkan standar nasional bagi program konseling sekolah untuk keseimbangan pelaksanaan konseling sekolah. Termasuk dukungan dalam perkembangan siswa yang meliputi tiga hal, yaitu akademik,karir,dan kepribadian social. Konselor sekolah yang bekerja sesuai standar nasional harus mengerti kebutuhan dan tugas untuk bekerjasama dengan seluruh pengambil kebijakan untuk memenuhi kebutuhan siswa.
Perubahan dalam masyarakat, rencana pendidikan, masalah-masalah yang dihadapi sekolah, komunitas, keluarga ,dan siswa merupakan tantangan yang harus dihadapi konselor sekolah.


TANTANGAN BAGI KONSELOR SEKOLAH DAN PROGRAM KONSELING SEKOLAH
Program konseling sekolah direncanakan dan dilaksanakan dalam jaringn sekolah yang menetap dalam masyarakat. Anggota masyarakat mempunyai pandangan berbeda tentang konseling di sekolah. Akibatnya, para konselor sekolahpun sering mengalami keruwetan dan tuntutan-tuntutan yang beragam dan begitu kompleks.

DEFINISI PERAN
Tantangan yang sering dihadapi oleh konselor sekolah adalah pada perdebatan yang berkepanjangan tentang definisi peran mereka di sekolah. Dalam menggabungkan ketepatan program dengan peranannya, konselor sekolah dituntut untuk:
1. Memberikan pelayanan konseling individu dan konseling dalam kelompok kecil.
2. Mmemberikan intervensi bimbingan ruang kelas.
3. Konsultasi dengan orang tua ,guru, pengurus, dan wakil perantara kelompok.
4. Memberi dukungan pada seluruh siswa untuk meningkatkan pengalaman pendidikan dan hasil.
5. Membangun hubungan kerjasama dan tim,baik di dalam maupun luar sekolah.
6. Menjadi anggota dalam kepemimpinan sekolah dan kelompok pembuat keputusan.
7. Memberi layanan secara perorangan, terfokus dan intervensi intensif bagi siswa bermasalah.
8. Menjadi ahli pembangunan dalam tata pengaturan sekolah.
9. Menjadi ahli kesehatan mental dalam tata pengaturan sekolah.
10. Menyediakan layanan konseling bagi keluarga.
11. Mengkoordinasi program-program sekolah, termasuk memberikan bantuan yang setara, melakukan mediasi, penyelesaian konflik, mencegah kekerasan, pendidikan karakter, dan program pembinaan guru.
12. Pencegahan tindakan bunuh diri, kehamilan, dropout, penggunaan narkoba, dan penyimpangan moral.
13. Mempertahankan mutu-mutu yang diperlukan dalam profesionalitas dalam semua area, termasuk untuk menjamin kualitas semua program.
Setiap konselor ideal mempunyai harapan terhadap siswa. Konselor sekolah mengesampingkan tekanan-tekanan siswa untuk menunjukkan hubungan dan fungsi-fungsi di luar dugaan.

PENINGKATAN POPULASI SISWA YANG BERAGAM
Tantangan kedua yang harus dihadapi konselor sekolah adalah peningkatan populasi siswa yang beragam di sekolah. Perubahan demografis masyarakat secara luas telah dicatat (e.g., Lee,2001) Sebagai perubahan yang nyata dalam pengaturan sekolah, konselor di perbolehkan menggunakan praktek dan teori kejiwaan dan pendidikan. Pengembangan diperluas, dari pandangan Eurocentrik dengan tidak memperbolehkan memperlihatkan dunia luar lebih banyak, atau yang paling baik adalah dengan melakukan pendekatan pada siswa dan keluarganya. Kemajuan yang sangat pesat membuat berbagai macam budaya masuk ke dalam sekolah, tetapi data statistic yang berkelanjutan menunjukkan adanya celah dalam hasil akademik berbagai suku bangsa (Education Trust, 1996) yang sama baiknya dengan perbedaan nyata tiap individu dalam pelayanan konseling (Sue & Sue, 1999)
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan mutu persoalan ini adalah, bahwa penyimpangan di sekolah hari-hari ini tidaklah terbatas pada suku bangsa manapun. Batasan penyimpangan secara nyata di gambarkan sejauh batasan-batasan yang telah di tentukan, termasuk status sosial-ekonomi, ketidakcakapan siswa (Carpenter, King Sear, dan Keys, 1998), perbedaan gaya hidup di kota (Omizo & Honda, 1997), dan pengenalan sex. Dalam kenyataannya, penyimpangan dapat digunakan untuk menggambarkan beberapa perbedaan-perbedaan dalam polatingkah laku, orientasi sikap, dan system-sistem nilai dari setiap siswa (Lee, 2001).
Konselor memerlukan kecakapan yang lebih dalam melayani siswa secara efektif. Seperti yang diangkat dari Asosiasi Pengembangan dan Konseling Multikultural. Mereka menunjukkan kemampuan Konselor dalam tiga dimensi konseling, yaitu: Kepercayaan, Pengetahuan, Keterampilan yang lebih lanjut diselidiki dalam tiga karakteristik konselor, yaitu Kesadaran akan keahlian masing-masing konselor dan nilai-nilai, Memahami berbagai perbedaan kebudayaan tiap klien, Mengembangkan teknik-teknik dan strategi dalam proses konseling
Hal ini memungkinkan konselor-konselor sekolah merasa frekuensi pertemuan mereka dengan siswa di sekolah tidaklah cukup.

MENINGKATNYA KETERGANTUNGAN TERHADAP TEKNOLOGI
Tantangan ketiga bagi konselor sekolah adalah adanya peningkatan di bidang teknologi. Kemajuan teknologi memberikan kesempatan yang luas untuk membuat dunia kerja berjalan dengan efektif dan efisien dan bagi konseling sekolah dapat mengambil keuntungan pada bidang teknologi dalam pelayanan dan pengembangan program konseling sekolah agar lebih baik (Baker & Geler, 2000). Computer dan internet memiliki potensial yang digunakan untuk membantu macam-macam tugas konseling. Sebagian besar konselor yang mempunyai kemampuan teknologi yang terbatas,hanya menggunakan komputer untuk tugas yang dasar seperti membuat jadwal dan memproses data-data siswa.
Tidak terdapat cukup bukti untuk memahami secara penuh bagaimana teknologi mempengaruhi hubungan antara konselor dan klien, hingga diketahui lebih lanjut, teknologi yang seharusnya diterapkan dalam situasi-situasi yang membutuhkan perhatian (Sampson, 2000). Perhatian lainnya, bahwa konselor membolehkan siswa untuk mengeksplorasi karir dan penilaian diri yang terarah tanpa pengawasan atau perintah yang tepat (Sampson, 2000).
Kerahasiaan merupakan masalah penting lainnya yang muncul karena ketergantungan pada teknologi. Menyimpan dan mengirimkan informasi penting semacam itu secara elektronik memunculkan pertanyaan tentang tingkat kerahasiaan informasi yang dapat dijamin (Owen & Weikel, 1999; Sampson & Bloom, 2001; Sampson, Kolodinsky, & Greeno, 1997)

PERTANGGUNGJAWABAN PADA SISTEM PENDIDIKAN
Pertanggungjawaban berarti menunjukkan bahwa sesuatu yang berguna sedang terjadi. Dalam sebuah setting sekolah umum, prinsip ini akan diwujudkan dalam langkah-langkah yang digunakan guna menunjukkan pada para pembayar pajak bahwa bahwa uang mereka bermanfaat. Dalam situasi-situasi semacam itu, para konselor ditantang untuk mengembangkan evaluasi-evaluasi dari usaha-usaha mereka maupun dari pendapat-pendapat konsumen. (Baker,2000). Baker juga mencatat beberapa alasan-alasan konselor melaksanakan program evaluasi. Hal-hal itu memerlukan sejumlah waktu dan uang untuk evaluasi saksama, keakuratan data memerlukan keterampilan, pengalaman secara satistik, agar berperan sesuai dengan model.
Secara konsep, program-program bimbingan sekolah secara historis berkaitan dengan hasil-hasil siswa yang diinginkan (Lapan, 2001). Saat ini, para pegawai tata usaha, dan para anggota dewan meminta peningkatan bukti yang mendukung keefektifan dari program-program yang didanai, para konselor tidak kebal akan itu. Sebagai gantinya, mereka diminta untuk menunjukkan data yang menunjukkan hasil-hasil yang positif yang berhubungan dengan misi sekolah, termasuk informasi yang berhubungan dengan kelas, pola-pola pembelajaran, nilai-nilai tes, kehadiran, dan acuan-acuan perilaku.
Lapan (2001) mengemukakan bahwa “perkembangan berkesinambungan profesi tergantung pada kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan”, antara lain:
1. Bagaimana peran, kewajiban, fungsi-fungsi, dan campur tangan konselor dapat diubah lebih besar dan berpengaruh pada semua siswa?
2. Bagaimana waktu konselor dapat didistribusikan kembali pada tugas untuk memaksimalkan keuntungan bagi semua siswa?
3. Bagaimana suatu program dapat menuju arah yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhn masing-masing sekolah?
4. Apakah program dari pusat dapat mengesampingkan misi dari masing-masing sekolah?
5. Bagaimana agar hubungan antara personal sekolah, orangtua, dan pemimpin masyarakat dapat lebih baik?
6. Bagaimana para konselor bisa lebih baik dalam mendukung program-program mereka dengan membuat kebijakan lokal dan nasional?
Ini adalah pertanyaan kompleks yang menantang konselor sekolah untuk mengembangkan rencana mereka sendiri dan pertanggungjawaban program mereka, tidak hanya untuk memuaskan konsumen, tapi juga untuk mengefektifkan pertemuan kebutuhan dari kebutuhan murid serta memfasilitasi belajar.
MENJADIKAN TANTANGAN MENJADI SEBUAH KESEMPATAN
Ketika sebuah tantangan tidak memberikan ketuntasan, hal ini menunjukkan kerumitan masalah yang dihadapi oleh konselor sekolah di abad ke 21. Dalam kenyataannya, sejarah bimbingan sekolah memberikan latar belakang yang bermanfaat bagi program yang kolaboratif, berkembang, dan menyeluruh saat ini.
Memiliki kerangka kerja yang terstruktur dalam menempatkan, mengantisipasi dan menggabungkan perubahan juga merupakan poin-poin terhadap potensi masa depan yang lebih baik (Gysbers & Henderson, 2001). Harapan ini digaungkan dalam editorial Konseling Sekolah Profesional baru-baru ini (Hughey, 2001) yang dinyatakan sebagai berikut: panduan dan program-program bimbingan yang menyeluruh telah memberikan sebuah kerangka kerja yang lebih jelas dari program-program tersebut.
Memenuhi tantangan tersebut, bimbingan sekolah memiliki kesempatan untuk meyakinkan konselor sekolah agar mendapatkan keahlian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan para siswa, membangun identitas profesional yang lebih kuat, melaksanakan program bimbingan yang lebih tepat, dan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap program-program yang telah mereka buat.
Perubahan tantangan tersebut menjadi kesempatan agar konselor, pendidik, dan pengawas konselor di sekolah bekerjasama untuk:
 Menentukan peranan dan wilayah-wilayah yang tepat pada fokus program
 Merancang dan ikut terlibat dalam perkembangan professional
 Menunjukkan hasil pertanggungjawaban.

MENENTUKAN PERAN DAN WILAYAH YANG TEPAT DENGAN TUJUAN PROGRAM
Konselor sekolah yang profesional memiliki banyak sejarah dalam mengenali perubahan-perubahan sosial, perubahan kebutuhan, dan mengubah layanan untuk memenuhi kebutuhan. Konselor sekolah harus siap untuk beradaptasi dengan prioritas dan campur tangan mereka guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang tengah berubah, pada saat yang sama mereka harus menjaga tujuan dan misi mereka (Herr, 2001).
Konselor sekolah serta guru bimbingan dan konseling harus bekerja secara kolaboratif agar bisa mengidentifikasikan dan menanggapi kebutuhan siswa secara efektif. Program bimbingan dan konseling bertumpu pada keikutsertaan proaktif yang berhubungan dengan pendekatan kolaboratif yang berkembang, dan menyeluruh. Kerangka kerja tersebut cukup luas untuk mengantisipasi perubahan. Hal ini cukup fleksibel untuk menggabungkan beragam alasan-alasan, anggapan, kegiatan, langkah-langkah, dan penggunaan waktu bimbingan (Gysbers dan Henderson,2001).
Standar Nasional Program-program Bimbingan Sekolah (Campbell & Dahir, 1997) memperkuat kedudukan bahwa penasihat sekolah memiliki kesepakatan yang diterima secara luas tentang prioritas-prioritas programnya. Konselor sekolah membentuk program-program mereka selama abad 21. Akan banyak campur tangan dari komponen-komponen penting yang dapat diterapkan. Hal ini akan mendorong pada situasi kritis, konselor sekolah diharapkan menyadari bahwa mereka tidak bisa melakukan semuanya dan mereka hanya bisa melakukan sedikit hal ketika sendirian. Kerjasama bukanlah hal yang baru bagi konselor sekolah, tetapi hal ini tampak sangat tidak terfasilitasi. Bimbingan sekolah, seperti halnya pelayanan masyarakat profesional lainnya, dipersiapkan secara tertutup, dengan penekanan pada perbedaan-perbedaan antara pekerjaan-pekerjaan dan kekhususan-kekhususan (Osborne & Collison, 1998).
Konselor sekolah tidak dapat bekerja sendirian. Saat ini di sekolah, terdapat cukup pembimbing sekolah untuk menangani kebutuhan-kebutuhan para siswa (Walsh dkk, 1999), dan tidak ada alasan untuk menganggap kecenderungan ini akan berubah dalam waktu dekat. Para guru pembimbing dapat berhubungan dengan personel sekolah lainnya, guru, orang tua, dan penasihat serta pemimpin masyarakat sehingga mereka bisa menggabungkan usaha-usaha mereka dan memenuhi kebutuhan para siswa secara kolektif.

PENGEMBANGAN PROFESI
Perkembangan profesionalitas bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, dan ini tidak kita dapatkan di jenjang pendidikan,faktanya pendidikan hanya sebuah awal. Menjadi konselor sekolah yang baik membutuhkan proses panjang,dan prose situ masih terus berlanjut meski telah menyelesaikan pendidikan formal. sebagai profesional yang mengidentifikasi pekerjaan mereka, meskipun demikian terdapat sedikit fokus pada perkembangan profesional setelah lulus baik dalam kepustakaan profesional atau dalam kebijakan (Brott & Myers, 1999).
Perkembangan keahlian profesional konselor sekolah adalah sebuah pembelajaran tentang keterampilan khusus yang nantinya menambah keefektifan seorang konselor dalam menangani konseli. Adapun contoh keahlian khusus:
 Pelatihan/pembelajaran pemahaman terhadap budaya (DAndrea & Daniels, 2001; Lee, 2001)
 Pemahaman klasifikasi-klasifikasi DSM-IV (Hinkle, 1999)
 Meningkatkan pemahaman mereka terhadap masalah-masalah yang beredar (Marinoble, 1998).
Ada pula skill yang tidak berhubungan langsung dengan konseling namun akan memudahkan pekerjaan seorang konselor :
 Pemanfaatan teknologi (Hohensil,2000; Owen & Weikel, 1999)
 Membangun hubungan kerjasama dengan personil pendidikan lain (e.g,Murphy et al,1998)
 Bekerjasama dengan komunitas konselor ( Keys, Bemak, Carpenter, & King-Scars, 1998: Lockhart&Keys,1998: Ponec,Poggi&Dickel,1999)
 Bekerjasama dengan pendidik konselor itu sendiri (Hayes et al,1997)
Membangun keahliannya sendiri saja tidak cukup. Konselor sekolah juga harus ikut berpartisipasi dalam pengamatan lebih lanjut untuk meningkatkan perkembangan professional mereka. Pengamatan dan pengawasan dapat membantu meringankan beban pekerjaan konselor.
Benshoff dan Paisley (1996) membangun contoh mengenai konsultasi sebaya untuk digunakan konselor sekolah dan pengawas sebagai metode umpan balik. Berbagi pengalaman dengan konselor sekolah lain akan lebih berguna. Hasilnya, dilaporkan lngsung secara konsisten. Pengembangan dan pengawasan profesionalitas sangat umum diperlukan. Pengawasan dilakukan secara fokus dalam persaingan budaya dan teknologi.
Lee (2001) menggambarkan karakteristik “Culturally Responsive School” ada dua:
 Semua siswa dapat dan ingin belajar
 Perbadaan kebudayaan adalah sebuah fakta yang tidak dapat diketahui
Lee menambahkan dan menggunakan empat fungsi dari “Culturally Responsive School” :
 Mempromosikan perkembangan diri yang positif
 Memfasilitasi perkembangan hubungan yang positif antar sesama siswa dari berbagai latar belakang yang berbeda
 Mempromosikan hasil akademik dan keahlian lain untuk kesuksesan sekolah
 Memfasilitasi penyelidikan karir dan proses pemilihan antar pemuda
Dari contoh kecil di atas, konselor sekolah dapat memainkan peranan penting dalam mengembangkan “ Culturally Responsive School”
Menggunakan teknologi untuk membangun program konseling sekolah agar lebih efektif dan efisien guna menghendaki keluasan pengembangan dan pengawasan profesionalitas. Aktivitas pengembangan profesionalitas dibutuhkan untuk mengisi topik yang bervariasi, antara lain:
 Menggunakan internet untuk tujuan penilaian dan untuk mendapatkan informasi (Sampson, 2000)
 Menjadi lebih memahami dengan adanya website, karena website dapat membantu sesama rekan kerja dan aktivitas konseling karir (Sampson, 2000; Shack 1998)
 Mengakses informasi siswa, antara lain kelas, standar kenaikan kelas, standar dropout dan kedisiplinan
 Menggunakan data untuk mendukung campur tangan konselor dengan masing-masing siswa dan untuk mempertahankan mutu system bagi semua siswa (Hohensil, 2000)
 Menggunakan segala bentuk teknologi untuk mendukung peranan konselor dalam melakukan konsultasi dengan guru, orangtua, dan siswa, dan untuk berhubungan dengan ahli-ahli konselor yang lain (Sampson dkk 1997)
Pengembangan kemampuan dan pengawasan dapat memilih program-programnya. Konselor di sekolah membutuhkan perlindungan terhadap profesi dan komunitas mereka untuk menambah kesempatan mereka terhadap semua siswa dan orangtua murid agar memiliki akses teknologi dalam setting sekolah

MENJAWAB PANGGILAN UNTUK PERTANGGUNGJAWABAN
Seperti konselor menyempurnakan identitas keahlian milik mereka dan kompeten,hasilnya akan dievaluasi. Namun, dalam hal ini, sangat dibutuhkan kesempatan untuk mempersatukan, dan memajukan profesi ini. Bagi konselor sekolah, pendidik dan pengawas konselor sekolah, mengembangkan contoh-contoh pertanggungjawaban dan kerangka kerja, merupakan pengantar yang paling efektif untuk dengan jelas membatasi dasar-dasar program konseling sekolah dan batas-batas pengaturan hubungan.Dasar pertanggungjawaban membutuhkan konselor sekolah, yang bekerjasama dengan para pemegang keputusan yang lain.
 Memahami kebutuhan siswa dengan jelas dalam sekolah baik melalui data kualitatif maupun kuantitatif.
 Merancang program konseling sekolah berdasarkan kebutuhan tersebut, yang menjadi misi sekolah, dan kompetensi siswa.
 Menentukan faktor-faktor relevan (nilai tes, kelas, kehadiran, pola-pola pengambilan mata pelajaran, hasil survei) untuk ditinjau.
 Mengimplementasikan program yang telah dibuat
 Mengevaluasi program
 Merevisi program yang dibutuhkan berdasarkan peninjauan kembali

Baker (2000) mengemukakan, akuntabilitas melibatkan evaluasi program dan menunjukkan bahwa sesuatu yang berharga tengah terjadi. Lebih signifikannya, membuat dan mengevaluasi program dan menggunakan hasil-hasil tersebut untuk meningkatkan pemrograman yang semuanya dapat meningkatkan kualitas pengalaman untuk siswa.

POTRET KONSELOR SEKOLAH YANG IDEAL : CERMINAN PRIBADI
Kita memerlukan tujuan yang baik dari ahli yang akan memimpin konseling sekolah pada tahap perkembangan selanjutnya. Dianatarnya:
 Mereka harus memakai system yang mendorong dan menyediakan kesempatan untuk mengembangkan serta mengawasi kemampuan khusus siswa.
 Memahami perkembangan normal maupun perkembangan abnormal.
 Mengetahui individu dalam keluarga,komunitas sekolah, dan juga latr belakang budayanya.
 Bekerjasama dengan personil sekolah lainnya,orang tua, siswa-siswa, anggota masyarakata, dan pendidik konselor sekolah itu sendiri.
 Menggunakan teknologi untuk mempersingkat proses administrasi dan memaksimalkan waktu mereka untuk siswa dan untuk mengkoordinasikan program mereka.
 Mengevaluasi program dan membicarakan hasilnya dengan warga sekolah serta menggunakan hasilnya untuk mengubah program yang lebih efektif sesuai dengan yang diperlukan oleh siswa
 Mendukung pembelajaran siswa
 Harus selalu merasa bahwa mereka tidak bias melakukan semuanya sendiri,dan jangan lupa untuk tetap tersenyum serta merawat diri sendiri.
Sebagai konselor dan pendidik konselor sekolah, hal ini sangat penting untuk memberi perhatian dan berkelanjutan untuk tetap mengajak seorang ahli agar dapat memajukan bidang keahlian dan lebih efektif lagi dalam memahami kebutuhan siswa.

Author: Yogi Rahmantyo

Hello.. Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel kami. Semoga bermanfaat untuk Anda. Salam sukses!!

1 comments:

herizal alwi mengatakan...

MAKNA CINTA PADA BELAJAR

Apa makna cinta pada belajar?
Apa dia?

Ia adalah perasaan apabila kita melakukan sesuatu untuk mendapat keredhaannya. Untuk mendapat perhatian Allah. Untuk mendapat cintaNya juga untuk mendapat rahmatNya supaya ilmu yang diperolehi sentiasa mendapat berkat.

Orang yang cinta pada Allah biasanya sanggup melakukan sesuatu secara ikhlas dan bersungguh sebab dia mahu perbuatannya itu mendapat pujian Allah semata.

Niat kita belajar adalah kerana Allah Taala. Ia bukan menjadi ayat penyedap. Malah sepatutnya memberi kefahaman yang signifikan dengan apakah yang dimaksudkan dengan istilah "kerana Allah Taala" itu.

Setiap apa yang kita lakukan jika disertakan niat keranaNya semata-mata, insya'Allah akan diberi ganjaran pahala di sisiNya. Harus ada niat belajar demi mencari keredaan Allah.

Belajar demi menjadi seorang yang cemerlang di mata masyarakat untuk menyampaikan agama islam. Belajar demi menjadi murabbi (pendidik) yang dapat mendidik anak muridnya ke jalan yang benar. Belajar menjadi "5 stars doctor" untuk membantu pesakit lantaran skil-skil yang digilap menjadi tarikan dakwah kepada masyarakat majmuk. Bukan hanya belajar kerana segulung ijazah semata-mata.

Orang yang berkasih sayang kerana Allah, mencintai kekasih hatinya kerana Allah, bekerja kerana Allah, menolong orang kerana Allah, bersahabat kerana Allah, menggembirakan seseorang kerana Allah, berbakti kepada ibu bapa kerana Allah, belajar kerana Allah, berniaga kerana Allah.

Dia tidak melakukan semua itu kerana duit tetapi untuk berbakti. Bukan untuk habuan dunia tetapi habuan akhirat selama-lamanya.

Dia berbakti pada orang sekeliling supaya Allah kasih kepadanya. Dia menjaga hubungannya dengan Allah melalui yang fardhu, dia menjaga hubungannya dengan orang sekeliling melalui berbuat kebaikan selalu. Dia adalah seorang yang baik di hati, di perbuatan, di dalam kata-kata dan di dalam fikirannya.

Ayuh!

Sahut seruan bersama! Kita punya visi yang sama. Walau susah liku-liku perjalanan menuntut ilmu, sabarlah. Bertahanlah. Ini adalah wadah untuk kita menyampaikan kebenaran dan menyentuh jiwa-jiwa mereka di luar sana.

Belajarlah kerana Allah.
Belajarlah untuk Islam.

“Ya Allah, keluarkanlah kami dari gelapnya keraguan, muliakan kami dengan ucapan kefahaman, bukakanlah bagiku hikmahMu dan limpahilah padaku keberkatanMu, wahai Zat Yang Maha Pengasih.”

Gratis!!

Daftarkan email Anda dan dapatkan artikel menarik setiap harinya.

Recent Articles

© 2014 Blog Anak Desa. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP