Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

19 Juli 2011

Biasakan anak untuk mencipta sesuatu, bukan menawarkan anak untuk membeli sesuatu.

 Jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Sasarannya bukan pada memicu anak berbisnis atau menjual sesuatu. Namun lebih kepada pembentukan karakter pribadi yang tangguh dan berdaya tahan tinggi. Cara sederhana yang bisa dibiasakan orangtua adalah ajak anak mencipta, membuat sesuatu, bukan membeli barang yang diinginkan. 

Pakar pendidikan, Arief Rachman, mengatakan orangtua terbiasa mengajak anak membeli sesuatu saat ke mal misalnya. Orangtua merasa perlu menyenangkan hati anak karena terlalu sibuk bekerja. Kecenderungan yang terjadi adalah, anak dihadapkan pada berbagai macam kesenangan atau barang. 

"Orangtua terbiasa menawarkan anak untuk bebas membeli apa saja yang mereka suka, sebagai bentuk penggantian atas rasa bersalahnya karena kesibukan sehari-hari. Padahal, anak perlu diajak untuk berpikir kreatif, berinisiatif, dengan mengajukan pertanyaan ke mereka seperti, 'Ayo, kita mau membuat apa?'" jelas Arief kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu. 

Kebiasaan menciptakan sesuatu inilah yang melandasi cara berpikir anak. Pola pikir seperti ini bisa dilatih, dan butuh peran orangtua sebagai pendukungnya. Dengan semangat mencipta, anak tak tumbuh menjadi pribadi yang mengandalkan orang lain untuk menghidupi dirinya. Orientasi anak tak seperti kebanyakan orang, sekolah, lalu mencari pekerjaan untuk menafkahi diri. Namun yang akan terjadi adalah sebaliknya, anak akan berpikir kreatif membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya dan orang lain. 

Nah, untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan ini, Arief menyebutkan sejumlah syarat. Ia menjelaskan, anak perlu memahami bahwa hidup punya aturan dan etiket. "Aturan perlu dibarengi dengan dorongan dari orangtua," lanjutnya. Mengajak anak untuk membuat sesuatu daripada membeli adalah juga bentuk etiket dan aturan. Pesannya, untuk mendapatkan sesuatu, setiap orang perlu berusaha, tidak menerima begitu saja dengan mudahnya.

Syarat lain yang juga penting, kata Arief, adalah dalam menjalani hidup, seseorang harus memiliki perilaku positif. Sikap positif perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Dengan kepribadian positif inilah jiwa kewirausahaan tertanam dalam diri anak. 

Kewirausahaan juga bisa ditanamkan melalui kebiasaan. Kebiasaan mencipta tadi bisa menjadi cara yang dibiasakan sejak kecil. Syarat menanamkan jiwa kewirausahaan lainnya adalah juga pengetahuan dan keterampilan. "Pengetahuan juga diperlukan namun tak perlu banyak. Banyak pengetahuan namun tak punya etiket juga tak ada gunanya," jelas Arief. 

Jiwa kewirausahaan yang tertanam dalam diri ini memiliki pengaruh besar dalam hidup seseorang. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tujuan, tangguh menjalani proses, pantang menyerah. "Jika pun gagal dalam hidup ia tak mudah menyerah," tutup Arief.

30 Juni 2011

Cara Sederhana Hindari Rasa Malas

Rasanya banyak diantara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit ini, yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu. Malas bangun dari tempat tidur, malas pergi olahraga, malas menyelesaikan tugas kantor, dll.

Menurut penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun kedepan tetapi satu atau dua menit dari sekarang.

Contohnya saja ketika Kita malas dari bangun, Kita akan berkata dalam hati: “Satu menit lagi saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali Kita akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke kantor.

Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Kita menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan di kantor. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang Kita tidak sukai, misalnya.

Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat Kita harus mengerjakannya. Di waktu yang sama Kita juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.

Dalam beberapa hal, Kita pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika Kita mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan –Kita malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan didepan.

Berikut ini ada 3 Tips untuk mengusir rasa malas dalam diri kita :


1. Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”

Apabila Kita dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, Kita sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.

Katakan setiap kali Kita bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara pkitang ini akan menghindarkan Kita dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Kita membuat sederhana tugas didepan Kita dengan bertindak positif. Fokus Kita hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.



2. Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”

Berpikir bahwa Kita harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan Kita menjadi malas mengerjakannya. Kita akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut.

Satu tip yang bisa Kita gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa Kita tidak harus melakukan pekerjaan yang Kita tidak mau.

Kita mau mengerjakan tugas karena memang Kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan Kita sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa Kita melakukan apa saja yang Kita tidak mau lakukan.



3. Kita Bukan Manusia Sempurna

Berpikir bahwa Kita harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Kita dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya Kita mungkin akan malas memulainya. Kita harus bisa menerima bahwa Kita pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.

Dalam konteks pekerjaan, Kita punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Kita selalu bisa negosiasi dengan boss Kita untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.



Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup Kita. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tiga tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga Kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya

26 Mei 2011

Cara membakar ide-ide Kreatif

Teman-teman bukan manusia kreatif yang serba bisa, tetapi harus kalian ketahui,bahwa setiap manusia mempunyai peluang untuk mengembangkan kreativitas yang mereka miliki dan mempersembahkan suatu sumbangan buat indonesia kita ini.Tak usah ragu dan hanya menunggu kapan pikiran dan ide kreatif itu muncul tetapi yang harus teman-teman lakukan adalah percayalah bahwa kalian bisa menjadi sesuatu yang kalian inginkan dan meraih semua mimpi kalian.beberapa hal yang mungkin bisa memberi sedikit jalan teman-teman untuk berfikir kreatif adalah sebagai berikut:


Cara memupuk kreativitas:

Sisihkan waktu-waktu tertentu setiap hari/malam guna berpikir kreatif. Coba waktu-waktu yang berlainan untuk mengetahui waktu terbaik buat kita
Mencari lingkungan/tempat terbaik buat memupuk kreativitas
Membuat alat-alat pengingat agar kita selalu konsisten untuk terus berpikir kreatif
Membantu dan mendorong orang lain untuk menjadi kreatif akan memupuk juga kreativitas diri kita sendiri.

Memanfaatkan metode brainstorming:

Tunda keputusan. Jangan mengkritik dan mengevaluasi gagasan ketika pembahasan tengah berlangsung. Pilih gagasan yang terbaik
. Dapatkan sejumlah besar gagasan. Tuliskan sebanyak mungkin gagasan secepatnya. Gunakan gagasan aneh dan menggelikan untuk merangsang lahirnya gagasan konvensional. Jangan membatasi diri/terikat pada satu gagasan tertentu sebelum Anda meneliti sebanyak mungkin gagasan yang dapat dikembangkan.Menjadi kreatif melibatkan risiko kegagalan, ketidakpastian, dan kerja keras yang sia-sia. Setiap hal yang baru akan menuai penolakan. Namun mengucurkan keringat untuk bekerja kreatif jauh lebih baik daripada membiarkan diri berkarat dalam kebiasaan.

Tentukan sasaran Anda, pilih waktu terbaik, pecahkan masalah, dan jadikan hidup lebih menyenangkan, produktif, dan memiliki segi-segi petualangan.
Dalam hidup kita, berapa banyak kita perlu bersikap tuli, berhenti mempercayai orang-orang yang bersikap negatif, yang mengatakan pada kita bahwa kita telah gagal, padahal dalam batin kita tahu kita sungguh mempunyai kemauan untuk menang?suarakan dalam hati kalian dengan keras bahwa"AKU BISA...!!! DAN PASTI BISA.."..karena yang terpenting dari semua ini adalah tentang bagaimana cara anda mempercayai kemampuan diri anda sendiri...OKE...!!!
Semoga dapat bermanfaat...GOOD LUCk...BRO!!!

15 Juni 2010

Cara Belajar Efektif


Ingin sukses dalam belajar? Ingin mendapatkan suatu cara efektif untuk belajar dengan menyenangkan? Berikut ini adalah 7 (tujuh) langkah yang dapat kamu lakukan dan kembangkan sendiri yang diadaptasi dari buku Seven Habits of Highly Effective People karangan Steven Covey

1. Bertanggung jawab atas dirimu sendiri
Tanggung jawab merupakan tolok ukur sederhana di mana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar.

2. Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.
Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu. Jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.

3. Kerjakan dulu mana yang penting.
Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.

4. Anggap dirimu berada dalam situasi "co-opetition" (bukan situasi "win-win" lagi).
"Co-opetition" merupakan gabungan dari kata "cooperation" (kerja sama) dan "competition" (persaingan). Jadi, selain sebagai teman yang membantu dalam belajar bersama dan banyak memberikan masukkan /ide baru dalam mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas. Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik (do your best) di dalam kelas.

5. Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu.
Ketika kamu ingin membicarakan suatu masalah akademis dengan guru/dosenmu, misalnya mempertanyakan nilai matematika atau meminta dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu sebagai guru/dosen tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-kira argumen apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi guru/dosen tersebut.

6. Cari solusi yang lebih baik.
Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

7. Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan.
Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kamu mendapatkan ide-ide yang cemerlang.

Materi diadaptasi dari: Landsberger, Joe. Effective Habits for Effective Study

Meningkatkan Efektifitas Belajar dengan Sistem M.U.R.D.E.R.


Sistem belajar ini dikenal dengan "MURDER", yang terdiri dari Mood, Understand, Recall, Digest, Expand, dan Review.

Perincian sistem belajar "MURDER" ini, diadaptasi dari buku The Complete Problem Solver oleh Bob Nelson. Silahkan telaah dan cermati untuk dilaksanakan....


Mood - Suasana Hati:
Ciptakan selalu mood yang positif untuk belajar. Ini bisa dilakukan dengan menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan pribadimu.

Understand - Pemahaman:
Tandai informasi bahan pelajaran yang TIDAK kamu mengerti dalam satu unit. Fokuskan pada unit tersebut atau melakukan beberapa kelompok latihan untuk unit itu.

Recall - Ulang:
Setelah belajar satu unit, berhentilah dan ulang bahan dari unit tersebut dengan kata-kata yang kamu buat SENDIRI.

Digest - Telaah:
Kembalilah pada unit yang tidak kamu mengerti dan PELAJARI KEMBALI keterangan yang ada. Lihatlah informasi yang terkait pada artikel, buku teks atau sumber lainnya, atau diskusikan dengan teman atau guru/dosen.

Expand - Kembangkan:
Pada langkah ini, tanyakan tiga persoalan berikut terhadap materi yang telah kamu pelajari:
• Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang
hendak saya ajukan?
• Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh
siswa/mahasiswa lainnya?
• Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya sukai?

Review - Pelajari Kembali:
Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Ingatlah strategi yang telah membantu kamu mengerti dan/atau mengingat informasi. Jadi,terapkan strategi tersebut untuk cara belajarmu berikutnya.


Materi diadaptasi dari:
Landsberger, Joe. The MURDER Study System


16 Januari 2010

Menolong Penderita Stress Traumatik

Trauma adalah suatu kejadian yang mengguncang secara psikologis. Biasanya peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba, dasyat bahkan mengancam jiwa. Untuk itulah orang yang merasakannya mengalami ketakutan yang sangat intens dan tidak berdaya.

Kematian anggota keluarga secara mendadak, keguguran, dipecat dari kerja, mengalami kecelakaan, mengalami perkosaan, semua ini dapat menjadi contoh pengalaman traumatik. Stres yang diakibatkannya, atau yang menyusul kejadian traumatik disebut sebagai stres pascatrauma. Manusia sesungguhnya memiliki mekanisme adaptasi untuk menghadapi masalah, termasuk dalam menghadapi trauma.

Meski demikian, penyesuaian menghadapi stres traumatik lebih sulit dilakukan. Berbeda dengan stres sehari-hari yang umumnya dapat lebih mudah ditanggulangi, stres traumatik bila tidak tertangani baik dapat sangat mengganggu fungsi individu.

Gejala Stress Traumatik:

1. Mengalami mimpi buruk berulang kali mengenai kejadian buruk itu dan insomnia.
2. Menarik diri dari lingkungan. Misalnya menghindari tempat-tempat yang akan menimbulkan trauma atau tidak mau melakukan kegiatan-kegiatan yang disuka.
3. Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat meningkat untuk mengkonsumsi makanan.
4. Hiperaktif yang negatif, punya kegelisahan yang berlebihan, rasa kekuatiran yang tidak masuk akal dan sikap yang tak tenang.
5. Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri
6. Merasa terganggu bila diingatkan, atau teringat tentang traumanya (oleh sesuatu yang dilihatnya, didengar, dirasakan, dicium, atau dirasakan (lidah)

Tindakan yang bisa anda lakukan untuk menolong:

- Anda harus bersedia mendampingi si teman kapan saja dibutuhkan.
- Hindari bertanya tentang rentetan kejadian yang dialaminya karena pertanyaan Anda bisa meninggalkan trauma lebih dalam.
- Anda harus bersedia menerima kondisi si teman seperti apa adanya. Jangan pernah membandingkannya dengan orang lain yang mengalami peristiwa yang sama tapi bisa bangkit seperti sediakala. Hal itu akan membuatnya lebih terpuruk ke dalam perasaan yang tidak berdaya.
- Melakukan kegiatan yang disukainya. Hal ini dapat membantunya keluar dari rasa trauma yang dialaminya.

15 Januari 2010

Teori Pembelajaran Kooperatif

A.Konsep Umum Teori Belajar Kooperatif

1.Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Kooperatif adalah suatu gambaran kerjasama antara individu yang satu dengan lainnya dalam suatu ikatan tertentu. Ikatan–ikatan tersebut yang menyebabkan antara satu dengan yang lainnya merasa berada dalam satu tempat dengan tujuan–tujuan yang secara bersama–sama diharapkan oleh setiap orang yang berada dalam ikatan itu.


Pemikiran tersebut hanya merupakan suatu gambaran sederhana apa yang tersirat tentang kooperatif. Sedangkan pengertian dari pembelajaran kooperatif menurut para ahli pendidikan adalah sebagai berikut:
  • Eggen dan Kauchak (1993: 319) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling -membantu dalam mempelajari sesuatu. Oleh karena itu belajar kooperatif ini juga dinamakan “belajar teman sebaya.”
  • Menurut Slavin (1997), pembelajaran kooperatif, merupakan metode pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen.
  • Pendapat setara menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, membantu mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial, dan hubungan antara manusia. Belajar secara kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif konstruktivis dan teori belajar sosial (Kardi dan Nur, 2000:15)
2. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Menurut Arends (1997: 111), pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar.
b. kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
c. jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda
d. penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.

3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Secara umum, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mencipatakan ikatan yang kuat antar siswa, membangun kecerdasan sosial dan emosional, sehingga pada akhirnya siswa bisa berinteraksi terhadap lingkungannya dengan segala kemampuan dan potensi diri yang berkembang dengan baik. Secara garis besar, tujuan tersebut bisa dicapai apabila memenuhi indikator sebagai berikut:

a. Kemandirian yang positif
Kemandirian yang positif akan berhasil dengan baik apabila setiap anggota kelompok merasa sejajar dengan anggota yang lain. Artinya satu orang tidak akan berhasil kecuali anggota yang lain merasakan juga keberhasilannya. Apapun usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk semua anggota kelompok. Kemandirian yang positif merupakan inti pembelajaran kooperatif.

b. Peningkatan interaksi
Pada saat guru menekankan kemandirian yang positif, selayaknya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengenal, tolong menolong, saling bantu, saling mendukung, memberi semangat dan saling memberi pujian atas usahanya dalam belajar. Aktivitas kognitif dan dinamika kelompok terjadi pada saat siswa diikutsertakan untuk belajar mengenal satu sama lain. Termasuk dalam hal ini menjelaskan bagaimana memecahkan masalah, mendiskusikan konsep yang akan dikerjakan, menjelaskan pada teman sekelas dan menghubungkan dengan pelajaran yang terakhir dipelajari

c. Pertanggungjawaban individu
Tujuan kelompok dalam pembelajaran kooperatif adalah agar masing-masing anggota menjadi lebih kuat pengetahuannya. Siswa belajar bersama sehingga setelah itu mereka dapat melakukan yang lebih baik sebagai individu. Untuk memastikan bahwa masing-masing anggota lebih kuat, siswa harus membuat pertanggungjawaban secara individu terhadap tugas yang menjadi bagiannya dalam bekerja. Pertanggungjawaban individu akan terlaksana jika perbuatan masing-masing individu dinilai dan hasilnya diberitahukan pada individu dan kelompok.

B. Implikasi Teori Belajar Kooperatif dalam Bimbingan dan Konseling
Dalam proses belajar mengajar, para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Ada kegiatan belajar tertentu yang akan lebih berhasil jika dikerjakan secara bersama-sama, misalnya dalam kerja kelompok, daripada jika dikerjakan sendirian oleh masing-masing siswa. Latihan kerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan kepribadian anak.
Pembelajaran kooperatif mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi (Ibrahim, 2000,12). Keterampilan ini amatlah penting untuk dimiliki siswa dalam rangka memahami konsep-konsep yang sulit, berpikir kritis dan kemampuan membantu teman.
Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa siswa-siswa mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret dan dikerjakan secara bersama-sama (Semiawan, 1992,14).
Melalui konsep pembelajaran kooperatif yang diimplementasikan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling diharapkan siswa mampu menggali potensi diri, mengembangkan konsep diri serta memiliki kecerdasan sosial dan emosional yang bagus.
Dalam ranah pengembangan kepribadian dan konsep diri siswa, konselor di sekolah dapat menerapkan pembelajaran kooperatif dalam konseling melalui teknik sebagai berikut:

1.Bimbingan kelompok
Dalam bimbingan kelompok sebaiknya dibentuk kelompok-kelompok kecil yang lebih kurang terdiri dari 4-5 orang. Murid-murid yang telah tergabung dalam kelompok-kelompok kecil itu mendiskusikan bersama sebagai permasalahan termasuk didalamnya permasalahan belajar.

2.Peer Konseling
Melalui peer konseling, hubungan sosial dan kecerdasan emosional siswa meningkat dan menjadi lebih baik. Dalam hal ini siswa bisa saling bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan.

3.Organisasi murid dan kegiatan bersama
Kegiatan bersama merupakan teknik bimbingan yang baik, karena dengan melakukan kegiatan bersama mendorong anak saling membantu sehingga relasi sosial positif dapat dikembangkan dengan baik. Organisasi siswa dapat membantu dalam proses pembentukan anak, baik secara pribadi maupun secara sebagai anggota masyarakat.

4.Sosiodrama
Sosiodrama adalah suatu cara dalam bimbingan yang memberikan kesempatan pada murid-murid untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang. Maka dari itu sosiadrama dipergunakan dalam pemecahan-pemecahan masalah.

11 Januari 2010

Konseling Sekolah; Antara Tantangan dan Peluang

Dewasa ini telah ditetapkan standar nasional bagi program konseling sekolah untuk keseimbangan pelaksanaan konseling sekolah. Termasuk dukungan dalam perkembangan siswa yang meliputi tiga hal, yaitu akademik,karir,dan kepribadian social. Konselor sekolah yang bekerja sesuai standar nasional harus mengerti kebutuhan dan tugas untuk bekerjasama dengan seluruh pengambil kebijakan untuk memenuhi kebutuhan siswa.
Perubahan dalam masyarakat, rencana pendidikan, masalah-masalah yang dihadapi sekolah, komunitas, keluarga ,dan siswa merupakan tantangan yang harus dihadapi konselor sekolah.


TANTANGAN BAGI KONSELOR SEKOLAH DAN PROGRAM KONSELING SEKOLAH
Program konseling sekolah direncanakan dan dilaksanakan dalam jaringn sekolah yang menetap dalam masyarakat. Anggota masyarakat mempunyai pandangan berbeda tentang konseling di sekolah. Akibatnya, para konselor sekolahpun sering mengalami keruwetan dan tuntutan-tuntutan yang beragam dan begitu kompleks.

DEFINISI PERAN
Tantangan yang sering dihadapi oleh konselor sekolah adalah pada perdebatan yang berkepanjangan tentang definisi peran mereka di sekolah. Dalam menggabungkan ketepatan program dengan peranannya, konselor sekolah dituntut untuk:
1. Memberikan pelayanan konseling individu dan konseling dalam kelompok kecil.
2. Mmemberikan intervensi bimbingan ruang kelas.
3. Konsultasi dengan orang tua ,guru, pengurus, dan wakil perantara kelompok.
4. Memberi dukungan pada seluruh siswa untuk meningkatkan pengalaman pendidikan dan hasil.
5. Membangun hubungan kerjasama dan tim,baik di dalam maupun luar sekolah.
6. Menjadi anggota dalam kepemimpinan sekolah dan kelompok pembuat keputusan.
7. Memberi layanan secara perorangan, terfokus dan intervensi intensif bagi siswa bermasalah.
8. Menjadi ahli pembangunan dalam tata pengaturan sekolah.
9. Menjadi ahli kesehatan mental dalam tata pengaturan sekolah.
10. Menyediakan layanan konseling bagi keluarga.
11. Mengkoordinasi program-program sekolah, termasuk memberikan bantuan yang setara, melakukan mediasi, penyelesaian konflik, mencegah kekerasan, pendidikan karakter, dan program pembinaan guru.
12. Pencegahan tindakan bunuh diri, kehamilan, dropout, penggunaan narkoba, dan penyimpangan moral.
13. Mempertahankan mutu-mutu yang diperlukan dalam profesionalitas dalam semua area, termasuk untuk menjamin kualitas semua program.
Setiap konselor ideal mempunyai harapan terhadap siswa. Konselor sekolah mengesampingkan tekanan-tekanan siswa untuk menunjukkan hubungan dan fungsi-fungsi di luar dugaan.

PENINGKATAN POPULASI SISWA YANG BERAGAM
Tantangan kedua yang harus dihadapi konselor sekolah adalah peningkatan populasi siswa yang beragam di sekolah. Perubahan demografis masyarakat secara luas telah dicatat (e.g., Lee,2001) Sebagai perubahan yang nyata dalam pengaturan sekolah, konselor di perbolehkan menggunakan praktek dan teori kejiwaan dan pendidikan. Pengembangan diperluas, dari pandangan Eurocentrik dengan tidak memperbolehkan memperlihatkan dunia luar lebih banyak, atau yang paling baik adalah dengan melakukan pendekatan pada siswa dan keluarganya. Kemajuan yang sangat pesat membuat berbagai macam budaya masuk ke dalam sekolah, tetapi data statistic yang berkelanjutan menunjukkan adanya celah dalam hasil akademik berbagai suku bangsa (Education Trust, 1996) yang sama baiknya dengan perbedaan nyata tiap individu dalam pelayanan konseling (Sue & Sue, 1999)
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan mutu persoalan ini adalah, bahwa penyimpangan di sekolah hari-hari ini tidaklah terbatas pada suku bangsa manapun. Batasan penyimpangan secara nyata di gambarkan sejauh batasan-batasan yang telah di tentukan, termasuk status sosial-ekonomi, ketidakcakapan siswa (Carpenter, King Sear, dan Keys, 1998), perbedaan gaya hidup di kota (Omizo & Honda, 1997), dan pengenalan sex. Dalam kenyataannya, penyimpangan dapat digunakan untuk menggambarkan beberapa perbedaan-perbedaan dalam polatingkah laku, orientasi sikap, dan system-sistem nilai dari setiap siswa (Lee, 2001).
Konselor memerlukan kecakapan yang lebih dalam melayani siswa secara efektif. Seperti yang diangkat dari Asosiasi Pengembangan dan Konseling Multikultural. Mereka menunjukkan kemampuan Konselor dalam tiga dimensi konseling, yaitu: Kepercayaan, Pengetahuan, Keterampilan yang lebih lanjut diselidiki dalam tiga karakteristik konselor, yaitu Kesadaran akan keahlian masing-masing konselor dan nilai-nilai, Memahami berbagai perbedaan kebudayaan tiap klien, Mengembangkan teknik-teknik dan strategi dalam proses konseling
Hal ini memungkinkan konselor-konselor sekolah merasa frekuensi pertemuan mereka dengan siswa di sekolah tidaklah cukup.

MENINGKATNYA KETERGANTUNGAN TERHADAP TEKNOLOGI
Tantangan ketiga bagi konselor sekolah adalah adanya peningkatan di bidang teknologi. Kemajuan teknologi memberikan kesempatan yang luas untuk membuat dunia kerja berjalan dengan efektif dan efisien dan bagi konseling sekolah dapat mengambil keuntungan pada bidang teknologi dalam pelayanan dan pengembangan program konseling sekolah agar lebih baik (Baker & Geler, 2000). Computer dan internet memiliki potensial yang digunakan untuk membantu macam-macam tugas konseling. Sebagian besar konselor yang mempunyai kemampuan teknologi yang terbatas,hanya menggunakan komputer untuk tugas yang dasar seperti membuat jadwal dan memproses data-data siswa.
Tidak terdapat cukup bukti untuk memahami secara penuh bagaimana teknologi mempengaruhi hubungan antara konselor dan klien, hingga diketahui lebih lanjut, teknologi yang seharusnya diterapkan dalam situasi-situasi yang membutuhkan perhatian (Sampson, 2000). Perhatian lainnya, bahwa konselor membolehkan siswa untuk mengeksplorasi karir dan penilaian diri yang terarah tanpa pengawasan atau perintah yang tepat (Sampson, 2000).
Kerahasiaan merupakan masalah penting lainnya yang muncul karena ketergantungan pada teknologi. Menyimpan dan mengirimkan informasi penting semacam itu secara elektronik memunculkan pertanyaan tentang tingkat kerahasiaan informasi yang dapat dijamin (Owen & Weikel, 1999; Sampson & Bloom, 2001; Sampson, Kolodinsky, & Greeno, 1997)

PERTANGGUNGJAWABAN PADA SISTEM PENDIDIKAN
Pertanggungjawaban berarti menunjukkan bahwa sesuatu yang berguna sedang terjadi. Dalam sebuah setting sekolah umum, prinsip ini akan diwujudkan dalam langkah-langkah yang digunakan guna menunjukkan pada para pembayar pajak bahwa bahwa uang mereka bermanfaat. Dalam situasi-situasi semacam itu, para konselor ditantang untuk mengembangkan evaluasi-evaluasi dari usaha-usaha mereka maupun dari pendapat-pendapat konsumen. (Baker,2000). Baker juga mencatat beberapa alasan-alasan konselor melaksanakan program evaluasi. Hal-hal itu memerlukan sejumlah waktu dan uang untuk evaluasi saksama, keakuratan data memerlukan keterampilan, pengalaman secara satistik, agar berperan sesuai dengan model.
Secara konsep, program-program bimbingan sekolah secara historis berkaitan dengan hasil-hasil siswa yang diinginkan (Lapan, 2001). Saat ini, para pegawai tata usaha, dan para anggota dewan meminta peningkatan bukti yang mendukung keefektifan dari program-program yang didanai, para konselor tidak kebal akan itu. Sebagai gantinya, mereka diminta untuk menunjukkan data yang menunjukkan hasil-hasil yang positif yang berhubungan dengan misi sekolah, termasuk informasi yang berhubungan dengan kelas, pola-pola pembelajaran, nilai-nilai tes, kehadiran, dan acuan-acuan perilaku.
Lapan (2001) mengemukakan bahwa “perkembangan berkesinambungan profesi tergantung pada kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan”, antara lain:
1. Bagaimana peran, kewajiban, fungsi-fungsi, dan campur tangan konselor dapat diubah lebih besar dan berpengaruh pada semua siswa?
2. Bagaimana waktu konselor dapat didistribusikan kembali pada tugas untuk memaksimalkan keuntungan bagi semua siswa?
3. Bagaimana suatu program dapat menuju arah yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhn masing-masing sekolah?
4. Apakah program dari pusat dapat mengesampingkan misi dari masing-masing sekolah?
5. Bagaimana agar hubungan antara personal sekolah, orangtua, dan pemimpin masyarakat dapat lebih baik?
6. Bagaimana para konselor bisa lebih baik dalam mendukung program-program mereka dengan membuat kebijakan lokal dan nasional?
Ini adalah pertanyaan kompleks yang menantang konselor sekolah untuk mengembangkan rencana mereka sendiri dan pertanggungjawaban program mereka, tidak hanya untuk memuaskan konsumen, tapi juga untuk mengefektifkan pertemuan kebutuhan dari kebutuhan murid serta memfasilitasi belajar.
MENJADIKAN TANTANGAN MENJADI SEBUAH KESEMPATAN
Ketika sebuah tantangan tidak memberikan ketuntasan, hal ini menunjukkan kerumitan masalah yang dihadapi oleh konselor sekolah di abad ke 21. Dalam kenyataannya, sejarah bimbingan sekolah memberikan latar belakang yang bermanfaat bagi program yang kolaboratif, berkembang, dan menyeluruh saat ini.
Memiliki kerangka kerja yang terstruktur dalam menempatkan, mengantisipasi dan menggabungkan perubahan juga merupakan poin-poin terhadap potensi masa depan yang lebih baik (Gysbers & Henderson, 2001). Harapan ini digaungkan dalam editorial Konseling Sekolah Profesional baru-baru ini (Hughey, 2001) yang dinyatakan sebagai berikut: panduan dan program-program bimbingan yang menyeluruh telah memberikan sebuah kerangka kerja yang lebih jelas dari program-program tersebut.
Memenuhi tantangan tersebut, bimbingan sekolah memiliki kesempatan untuk meyakinkan konselor sekolah agar mendapatkan keahlian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan para siswa, membangun identitas profesional yang lebih kuat, melaksanakan program bimbingan yang lebih tepat, dan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap program-program yang telah mereka buat.
Perubahan tantangan tersebut menjadi kesempatan agar konselor, pendidik, dan pengawas konselor di sekolah bekerjasama untuk:
 Menentukan peranan dan wilayah-wilayah yang tepat pada fokus program
 Merancang dan ikut terlibat dalam perkembangan professional
 Menunjukkan hasil pertanggungjawaban.

MENENTUKAN PERAN DAN WILAYAH YANG TEPAT DENGAN TUJUAN PROGRAM
Konselor sekolah yang profesional memiliki banyak sejarah dalam mengenali perubahan-perubahan sosial, perubahan kebutuhan, dan mengubah layanan untuk memenuhi kebutuhan. Konselor sekolah harus siap untuk beradaptasi dengan prioritas dan campur tangan mereka guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang tengah berubah, pada saat yang sama mereka harus menjaga tujuan dan misi mereka (Herr, 2001).
Konselor sekolah serta guru bimbingan dan konseling harus bekerja secara kolaboratif agar bisa mengidentifikasikan dan menanggapi kebutuhan siswa secara efektif. Program bimbingan dan konseling bertumpu pada keikutsertaan proaktif yang berhubungan dengan pendekatan kolaboratif yang berkembang, dan menyeluruh. Kerangka kerja tersebut cukup luas untuk mengantisipasi perubahan. Hal ini cukup fleksibel untuk menggabungkan beragam alasan-alasan, anggapan, kegiatan, langkah-langkah, dan penggunaan waktu bimbingan (Gysbers dan Henderson,2001).
Standar Nasional Program-program Bimbingan Sekolah (Campbell & Dahir, 1997) memperkuat kedudukan bahwa penasihat sekolah memiliki kesepakatan yang diterima secara luas tentang prioritas-prioritas programnya. Konselor sekolah membentuk program-program mereka selama abad 21. Akan banyak campur tangan dari komponen-komponen penting yang dapat diterapkan. Hal ini akan mendorong pada situasi kritis, konselor sekolah diharapkan menyadari bahwa mereka tidak bisa melakukan semuanya dan mereka hanya bisa melakukan sedikit hal ketika sendirian. Kerjasama bukanlah hal yang baru bagi konselor sekolah, tetapi hal ini tampak sangat tidak terfasilitasi. Bimbingan sekolah, seperti halnya pelayanan masyarakat profesional lainnya, dipersiapkan secara tertutup, dengan penekanan pada perbedaan-perbedaan antara pekerjaan-pekerjaan dan kekhususan-kekhususan (Osborne & Collison, 1998).
Konselor sekolah tidak dapat bekerja sendirian. Saat ini di sekolah, terdapat cukup pembimbing sekolah untuk menangani kebutuhan-kebutuhan para siswa (Walsh dkk, 1999), dan tidak ada alasan untuk menganggap kecenderungan ini akan berubah dalam waktu dekat. Para guru pembimbing dapat berhubungan dengan personel sekolah lainnya, guru, orang tua, dan penasihat serta pemimpin masyarakat sehingga mereka bisa menggabungkan usaha-usaha mereka dan memenuhi kebutuhan para siswa secara kolektif.

PENGEMBANGAN PROFESI
Perkembangan profesionalitas bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, dan ini tidak kita dapatkan di jenjang pendidikan,faktanya pendidikan hanya sebuah awal. Menjadi konselor sekolah yang baik membutuhkan proses panjang,dan prose situ masih terus berlanjut meski telah menyelesaikan pendidikan formal. sebagai profesional yang mengidentifikasi pekerjaan mereka, meskipun demikian terdapat sedikit fokus pada perkembangan profesional setelah lulus baik dalam kepustakaan profesional atau dalam kebijakan (Brott & Myers, 1999).
Perkembangan keahlian profesional konselor sekolah adalah sebuah pembelajaran tentang keterampilan khusus yang nantinya menambah keefektifan seorang konselor dalam menangani konseli. Adapun contoh keahlian khusus:
 Pelatihan/pembelajaran pemahaman terhadap budaya (DAndrea & Daniels, 2001; Lee, 2001)
 Pemahaman klasifikasi-klasifikasi DSM-IV (Hinkle, 1999)
 Meningkatkan pemahaman mereka terhadap masalah-masalah yang beredar (Marinoble, 1998).
Ada pula skill yang tidak berhubungan langsung dengan konseling namun akan memudahkan pekerjaan seorang konselor :
 Pemanfaatan teknologi (Hohensil,2000; Owen & Weikel, 1999)
 Membangun hubungan kerjasama dengan personil pendidikan lain (e.g,Murphy et al,1998)
 Bekerjasama dengan komunitas konselor ( Keys, Bemak, Carpenter, & King-Scars, 1998: Lockhart&Keys,1998: Ponec,Poggi&Dickel,1999)
 Bekerjasama dengan pendidik konselor itu sendiri (Hayes et al,1997)
Membangun keahliannya sendiri saja tidak cukup. Konselor sekolah juga harus ikut berpartisipasi dalam pengamatan lebih lanjut untuk meningkatkan perkembangan professional mereka. Pengamatan dan pengawasan dapat membantu meringankan beban pekerjaan konselor.
Benshoff dan Paisley (1996) membangun contoh mengenai konsultasi sebaya untuk digunakan konselor sekolah dan pengawas sebagai metode umpan balik. Berbagi pengalaman dengan konselor sekolah lain akan lebih berguna. Hasilnya, dilaporkan lngsung secara konsisten. Pengembangan dan pengawasan profesionalitas sangat umum diperlukan. Pengawasan dilakukan secara fokus dalam persaingan budaya dan teknologi.
Lee (2001) menggambarkan karakteristik “Culturally Responsive School” ada dua:
 Semua siswa dapat dan ingin belajar
 Perbadaan kebudayaan adalah sebuah fakta yang tidak dapat diketahui
Lee menambahkan dan menggunakan empat fungsi dari “Culturally Responsive School” :
 Mempromosikan perkembangan diri yang positif
 Memfasilitasi perkembangan hubungan yang positif antar sesama siswa dari berbagai latar belakang yang berbeda
 Mempromosikan hasil akademik dan keahlian lain untuk kesuksesan sekolah
 Memfasilitasi penyelidikan karir dan proses pemilihan antar pemuda
Dari contoh kecil di atas, konselor sekolah dapat memainkan peranan penting dalam mengembangkan “ Culturally Responsive School”
Menggunakan teknologi untuk membangun program konseling sekolah agar lebih efektif dan efisien guna menghendaki keluasan pengembangan dan pengawasan profesionalitas. Aktivitas pengembangan profesionalitas dibutuhkan untuk mengisi topik yang bervariasi, antara lain:
 Menggunakan internet untuk tujuan penilaian dan untuk mendapatkan informasi (Sampson, 2000)
 Menjadi lebih memahami dengan adanya website, karena website dapat membantu sesama rekan kerja dan aktivitas konseling karir (Sampson, 2000; Shack 1998)
 Mengakses informasi siswa, antara lain kelas, standar kenaikan kelas, standar dropout dan kedisiplinan
 Menggunakan data untuk mendukung campur tangan konselor dengan masing-masing siswa dan untuk mempertahankan mutu system bagi semua siswa (Hohensil, 2000)
 Menggunakan segala bentuk teknologi untuk mendukung peranan konselor dalam melakukan konsultasi dengan guru, orangtua, dan siswa, dan untuk berhubungan dengan ahli-ahli konselor yang lain (Sampson dkk 1997)
Pengembangan kemampuan dan pengawasan dapat memilih program-programnya. Konselor di sekolah membutuhkan perlindungan terhadap profesi dan komunitas mereka untuk menambah kesempatan mereka terhadap semua siswa dan orangtua murid agar memiliki akses teknologi dalam setting sekolah

MENJAWAB PANGGILAN UNTUK PERTANGGUNGJAWABAN
Seperti konselor menyempurnakan identitas keahlian milik mereka dan kompeten,hasilnya akan dievaluasi. Namun, dalam hal ini, sangat dibutuhkan kesempatan untuk mempersatukan, dan memajukan profesi ini. Bagi konselor sekolah, pendidik dan pengawas konselor sekolah, mengembangkan contoh-contoh pertanggungjawaban dan kerangka kerja, merupakan pengantar yang paling efektif untuk dengan jelas membatasi dasar-dasar program konseling sekolah dan batas-batas pengaturan hubungan.Dasar pertanggungjawaban membutuhkan konselor sekolah, yang bekerjasama dengan para pemegang keputusan yang lain.
 Memahami kebutuhan siswa dengan jelas dalam sekolah baik melalui data kualitatif maupun kuantitatif.
 Merancang program konseling sekolah berdasarkan kebutuhan tersebut, yang menjadi misi sekolah, dan kompetensi siswa.
 Menentukan faktor-faktor relevan (nilai tes, kelas, kehadiran, pola-pola pengambilan mata pelajaran, hasil survei) untuk ditinjau.
 Mengimplementasikan program yang telah dibuat
 Mengevaluasi program
 Merevisi program yang dibutuhkan berdasarkan peninjauan kembali

Baker (2000) mengemukakan, akuntabilitas melibatkan evaluasi program dan menunjukkan bahwa sesuatu yang berharga tengah terjadi. Lebih signifikannya, membuat dan mengevaluasi program dan menggunakan hasil-hasil tersebut untuk meningkatkan pemrograman yang semuanya dapat meningkatkan kualitas pengalaman untuk siswa.

POTRET KONSELOR SEKOLAH YANG IDEAL : CERMINAN PRIBADI
Kita memerlukan tujuan yang baik dari ahli yang akan memimpin konseling sekolah pada tahap perkembangan selanjutnya. Dianatarnya:
 Mereka harus memakai system yang mendorong dan menyediakan kesempatan untuk mengembangkan serta mengawasi kemampuan khusus siswa.
 Memahami perkembangan normal maupun perkembangan abnormal.
 Mengetahui individu dalam keluarga,komunitas sekolah, dan juga latr belakang budayanya.
 Bekerjasama dengan personil sekolah lainnya,orang tua, siswa-siswa, anggota masyarakata, dan pendidik konselor sekolah itu sendiri.
 Menggunakan teknologi untuk mempersingkat proses administrasi dan memaksimalkan waktu mereka untuk siswa dan untuk mengkoordinasikan program mereka.
 Mengevaluasi program dan membicarakan hasilnya dengan warga sekolah serta menggunakan hasilnya untuk mengubah program yang lebih efektif sesuai dengan yang diperlukan oleh siswa
 Mendukung pembelajaran siswa
 Harus selalu merasa bahwa mereka tidak bias melakukan semuanya sendiri,dan jangan lupa untuk tetap tersenyum serta merawat diri sendiri.
Sebagai konselor dan pendidik konselor sekolah, hal ini sangat penting untuk memberi perhatian dan berkelanjutan untuk tetap mengajak seorang ahli agar dapat memajukan bidang keahlian dan lebih efektif lagi dalam memahami kebutuhan siswa.

Gratis!!

Daftarkan email Anda dan dapatkan artikel menarik setiap harinya.

Recent Articles

© 2014 Blog Anak Desa. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP