Tampilkan postingan dengan label Hikmah dan Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah dan Motivasi. Tampilkan semua postingan

19 Juli 2011

Kemandirian: Bicaranya Enak, Mempraktikkannya Jauh Lebih Sulit

Menjadi pribadi yang independen adalah impian semua orang. Mereka yang independen atau mandiri dapat membangun dinasti bisnis, dinasti karakter serta dinasti keluarga yang mapan dan sejahtera. Selain dapat mensejahterakan dirinya, seorang yang mandiri dituntut kemampuannya untuk dapat menyejahterakan orang lain yang ada di sekitarnya. Mandiri merupakan kunci kesuksesan bagi sebagian besar orang, terutama Kompasianer dalam kegiatan menulis dan jurnalisme warga yang digeluti.

Satu ilustrasi yang cukup menarik, banyak tokoh dan elit negeri ini bicara tentang kemandirian bangsa, namun untuk mengedukasi masyarakat tentang kemandirian bangsa justru merupakan kontradiksi yang tak luput dari perhatian. Suatu gambaran konkret bahwa menjadi mandiri dibutuhkan karakter terbarukan. Tidak sekadar karakter lama sebagai pribadi yang menginginkan terwujudnya harapan tanpa ikhtiar.

Banyak sekali anak muda menginginkan diri mereka mandiri baik di dalam maupun di keluarga. Bicaranya tentu enak, namun kenyataan di lapangan mempraktekkan kemandirian ternyata tidak jauh berbeda dengan mengangkat beban berton-ton beratnya. Ngos-ngosan, tentu saja. Tujuannya, tentu saja karir yang mapan, keluarga yang bahagia, pribadi yang matang. Tolak ukurnya, kesejahteraan finansial.

Sedikit pengalaman tentang kemandirian, saya adalah salah satu Kompasianer muda yang cukup sulit menapaki kemandirian, sekalipun telah dipupuk sejak masih duduk di sekolah dasar. Saya adalah orang yang dulunya paling malas mencuci baju kotor sendiri, karena pembantu rumah tangga yang terbiasa mengurusi. Namun semakin dewasa saya perlu untuk melakukannya, dan akhirnya saya terbiasa. Begitu pula dengan mencuci piring, gelas dan alat makan.

Seorang teman berkata kepada saya demikian, “Josh, gue udah mandiri loh!” Saya terkaget-kaget, ternyata kemandirian yang dimaksud bukan karakternya, tetapi ia menunjukkan sebuah kartu ATM yang baru dimilikinya beberapa jam berselang. Lantas saya tahu bahwa ia baru saja menapaki kemandirian keuangan, namun batin saya tertawa karena kurang begitu yakin.

“Serius lo? Udah bisa cuci baju sendiri belom?” tukas saya setelahnya.

Gelak tawa saya pecah ketika seusai makan bersama di rumahnya, ia belum tahu bagaimana cara mencuci piring yang benar dan bersih. Masih ada sisa lemak di piringnya. Inikah yang dimaksud dengan kemandirian?

Hmmm… Tak sedikit muda-mudi sekarang terjebak dalam fatamorgana kemandirian yang diukur berdasarkan kemapanan finansial. Hal ini semata-mata untuk menaikkan pamor, atau tidak mau kalah dengan orangtuanya. Padahal, manajemen keuangan benar-benar beresiko dibanding manajemen diri yang sederhana, seperti membereskan tempat tidur atau disiplin dan tanggung jawab dalam menggunakan utilitas rumah, contohnya gunting, pisau atau solatip. Saya banyak menemukan hal ini di teman-teman saya. Umumnya mereka terperangkap dalam kemalasan, sekalipun uang jajannya membanjir di dompet.

Memang sebuah kontradiksi. Uang telah membutakan tanggung jawab dan disiplin seorang anak. Tapi apa mau dikata. Kasta-lah yang mengizinkan ini terjadi. Kalau saya jadi mereka, malu rasanya. Apalagi jika isteri di masa depan tahu boroknya saya yang dulunya pemalas. Bisa-bisa belum apa-apa sudah cerai karena tidak bisa membantu isteri menyelesaikan pekerjaan rumah. Iya, kan?

Semua dimulai dari, oleh dan untuk diri sendiri, termasuk untuk menjadi pribadi mandiri. Semoga muda-mudi yang bergairah dan penuh semangat tidak hanya berkutat di tempat tidur dengan gadget canggih saja. Kemandirian dapat dimulai dengan mengubah pola pikir, seperti kata Hazmi Srondol. Penulis novel komedi Srondol Gayus ke Italy ini berpendapat, pikiran selalu mendahului tindakan. Juga dibutuhkan ekstra kesabaran, waktu dan tenaga untuk meraih gelar “independen” sesungguhnya. (dari berbagai sumber)

Biasakan anak untuk mencipta sesuatu, bukan menawarkan anak untuk membeli sesuatu.

 Jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Sasarannya bukan pada memicu anak berbisnis atau menjual sesuatu. Namun lebih kepada pembentukan karakter pribadi yang tangguh dan berdaya tahan tinggi. Cara sederhana yang bisa dibiasakan orangtua adalah ajak anak mencipta, membuat sesuatu, bukan membeli barang yang diinginkan. 

Pakar pendidikan, Arief Rachman, mengatakan orangtua terbiasa mengajak anak membeli sesuatu saat ke mal misalnya. Orangtua merasa perlu menyenangkan hati anak karena terlalu sibuk bekerja. Kecenderungan yang terjadi adalah, anak dihadapkan pada berbagai macam kesenangan atau barang. 

"Orangtua terbiasa menawarkan anak untuk bebas membeli apa saja yang mereka suka, sebagai bentuk penggantian atas rasa bersalahnya karena kesibukan sehari-hari. Padahal, anak perlu diajak untuk berpikir kreatif, berinisiatif, dengan mengajukan pertanyaan ke mereka seperti, 'Ayo, kita mau membuat apa?'" jelas Arief kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu. 

Kebiasaan menciptakan sesuatu inilah yang melandasi cara berpikir anak. Pola pikir seperti ini bisa dilatih, dan butuh peran orangtua sebagai pendukungnya. Dengan semangat mencipta, anak tak tumbuh menjadi pribadi yang mengandalkan orang lain untuk menghidupi dirinya. Orientasi anak tak seperti kebanyakan orang, sekolah, lalu mencari pekerjaan untuk menafkahi diri. Namun yang akan terjadi adalah sebaliknya, anak akan berpikir kreatif membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya dan orang lain. 

Nah, untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan ini, Arief menyebutkan sejumlah syarat. Ia menjelaskan, anak perlu memahami bahwa hidup punya aturan dan etiket. "Aturan perlu dibarengi dengan dorongan dari orangtua," lanjutnya. Mengajak anak untuk membuat sesuatu daripada membeli adalah juga bentuk etiket dan aturan. Pesannya, untuk mendapatkan sesuatu, setiap orang perlu berusaha, tidak menerima begitu saja dengan mudahnya.

Syarat lain yang juga penting, kata Arief, adalah dalam menjalani hidup, seseorang harus memiliki perilaku positif. Sikap positif perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Dengan kepribadian positif inilah jiwa kewirausahaan tertanam dalam diri anak. 

Kewirausahaan juga bisa ditanamkan melalui kebiasaan. Kebiasaan mencipta tadi bisa menjadi cara yang dibiasakan sejak kecil. Syarat menanamkan jiwa kewirausahaan lainnya adalah juga pengetahuan dan keterampilan. "Pengetahuan juga diperlukan namun tak perlu banyak. Banyak pengetahuan namun tak punya etiket juga tak ada gunanya," jelas Arief. 

Jiwa kewirausahaan yang tertanam dalam diri ini memiliki pengaruh besar dalam hidup seseorang. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tujuan, tangguh menjalani proses, pantang menyerah. "Jika pun gagal dalam hidup ia tak mudah menyerah," tutup Arief.

1 Juli 2011

Ngelmu Pring (Falsafah Bambu)

Ada lagu bagus nih dari penyanyi beraliran hip-hop asal Jogja yang bernama Rotra. Judulnya Ngelmu Pring, kalau dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya Falsafah Bambu. Sesuai dengan judulnya, lirik lagu ini maknanya sangat bagus, tentang bambu dan segala manfaatnya dalam kehidupan bagi manusia, intinya semua yang ada pada bambu ada manfaatnya, begitupun manusia seharusnya bisa mencontoh tanaman yang termasuk rumput-rumputan ini.

pring reketeg gunung gamping ambrol,
ati kudu teteg ja nganti urip ketakol….
pring reketeg gunung gamping ambrol,
uripa sing jejeg nek ra eling jebol….

pring deling, tegese kendel lan eling…
kendel marga eling, timbang nggrundel nganti suwing
pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg…
rejeki seret, rasah dha buneg
pring ori, urip iku mati….
kabeh sing urip mesti bakale mati
pring apus, urip iku lampus…..
dadi wong urip aja seneng apus-apus
pring petung, urip iku suwung….
sanajan suwung nanging aja padha bingung
pring wuluh, urip iku tuwuh…
aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh
pring cendani, urip iku wani…
wani ngadepi, aja mlayu marga wedi
pring kuning, urip iku eling….
wajib padha eling, eling marang Sing Peparing

pring iku mung suket,
ning omah asale seka pring,
usuk seka pring,
cagak seka pring,
gedhek iku pring,
lincak uga pring,
kepang cetha pring,
tampare ya mung pring….
kalo, tampah, serok, asale seka pring….
pikulan, tepas, tenggok, digawe nganggo pring….
mangan enak, mancing iwak, walesane ya pring…
jangan bung, aku gandrung, jebule bakal pring…

nek ngono pancen penting, kabeh sing nang nggon wit pring
pancen penting tumraping manungsa sing dha eling
eling awake, eling pepadhane, eling patine, lan eling Gustine…
wong urip kudu eling, iso urip seka pring
tekan titi wancine ya digotong nganggo pring
bali nang ngisor lemah, padha ngisor oyot pring
mulane padha eling, elinga Sing Peparing….

ora bakal bubrah marga iso melur…
kena dinggo mikul, ning aja ketungkul
urip kuwi abot, ja digawe abot…
akeh repot, sak trek ora amot
mulane uripmu aja dha kaku….
melura, pasraha, ra sah dha nesu
aja mangu-mangu ning terus mlaku…
sanajan ro ngguyu aja lali wektu
kowe bakal bisa urip rekasa….
ning kudu percaya uga sregep ndonga
Gusti paringana, luwih pangapura…
marang kawula ingkang kathah lepat lan dosa
aja nggresula, aja wedi
dudu kowe, ning Gusti sing mesti luwih ngerti….
ngatur urip lan mati,
nyukupi rejeki,
paring tentreming ati,
cukup sandang pangan papan,
bakal mukti pakarti….


Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia :
*Pring = Bambu
Pring reketeg, gunung gamping (kapur) runtuh, hati harus tegar jangan sampai hidup
Pring reketeg, gunung gamping runtuh, hiduplah yang lurus kalau lupa jebol
Pring deling, artinya berani dan ingat, berani karena ingat, daripada menggerutu membuat bibir sumbing
Pring itu rumput(?), tinggi tapi lurus, rejeki pelan jangan pada sedih
Pring ori, hidup itu ujungnya mati, semua yang hidup pasti mati
Pring apus, hidup itu ujungnya mati, jadi orang hidup jangan suka berbohong
Pring petung, hidup itu gila, tapi meskipun gila, jangan pada bingung
Pring wuluh, hidup itu bertumbuh, jangan cuma ngga peduli, pura-pura tidak tahu
Pring cendani, hidup itu harus berani, berani menghadapi, jangan cuma lari ketakutan
Pring kuning, hidup itu harus ingat, wajib untuk ingat, ingat kepada Yang Memberi
Pring itu cuma rumput, tapi rumah itu dari bambu
rusuk rumah dari bambu, tiang juga dari bambu, gedheg itu bambu
lincak (kursibambu) juga bambu, kepang jelas bambu, tampare juga cuma dari bambu
kalo, tampah, serok asalnya bambu. pikulan, kipas, tempat nasi, dibuat dari bambu
makan enak atau mancing ikan, alas duduknya juga pakai bambu
jangan bung (sayur rebung), aku suka, ternyata juga bambu!
kalau begitu memang penting, semua bagian tanaman bambu
memang penting buat manusia yang mengingat
ingat diri sendiri, ingat sesamanya, ingat kehidupannya dan ingat Tuhannya
orang hidup harus ingat, bisa hidup dari bambu, sampai akhir hayat ya akhirnya diangkat pakai bambu (peti mati biasa diangkat pakai bambu kan..)
kembali ke dalam tanah, dibawah akar bambu, makanya ingatlah, ingat pada Yang Memberi
ngga bakal rusak karena bisa melar, bisa dipakai mikul, tapi jangan ketungkul
hidup itu udah berat, jangan dibikin tambah berat, kalo terlalu repot nanti satu truk ngga cukup
makanya hidupmu jangan kaku, melebarlah, berserahlah, jangan marah-marah
jangan termangu-mangu tapi terus berjalan, sambil tertawa, tapi jangan lupa waktu
kamu bakal hidup menderita, tapi tetap harus percaya dan rajin berdoa
Tuhan anugerahilah: lebih banyak maaf, kepada hamba yang banyak salah dan dosa
Janganlah menggerutu, jangan takut, bukan kamu tapi Tuhan yang pasti lebih tahu
Dia mengatur hidup dan mati, mencukupkan rejeki, memberikan ketentraman hati
cukup sandang pangan papan, bakal memberi pengertian

Notes:
- Pring reketeg itu frase bahasa jawa yang artinya bambu yang mengeluarkan bunyi mengerenyit, suaranya kedengaran seperti reketeg
- Pring deling, pring ori, pring apus, pring wuluh, pring petung, pring cendani, pring kuning adalah tipe-tipe bambu dalam bahasa jawa

Kalau mendengar lagu ini (dan mengetahui maknanya) pasti akan membuat kita selalu bersyukur dan lebih optimis dalam menjalani hidup. Semoga!!!

Link Download:
atau

30 Desember 2009

Resiko Lentera Kehidupan


Seorang pria berlayar mengarungi Selat Sunda dalam rangka mudik ke kampung halamannya. Ia mengalami mabuk laut yang sangat parah dan mengurung diri di kamar. Hingga suatu malam ia mendengar teriakan, "Ada orang jatuh ke laut!"

Akan tetapi ia merasa bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan untuk memberi pertolongan. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri yang tengah mengalami mabuk lau tersebut., "Setidaknya saya dapat menaruh lentera pada tingkap di sisi kapal."

Lalu ia berusaha berdiri dan menggantungkan lenteranya. Keesokan harinya dia mendengar bagaimana orang yang berhasil diselamatkan tersebut berkata, "Saya nyaris tenggelam di tengah gelapnya malam, namun pada saat yang tepat, seseorang menaruh lentera di tingkap di sisi kapal. Ketika lentera tersebut menyinari tangan saya, seorang pelaut yang ada di sekoci penyelamat menangkap tangan saya dan menarik saya masuk dalam sekocinya

Gratis!!

Daftarkan email Anda dan dapatkan artikel menarik setiap harinya.

Recent Articles

© 2014 Blog Anak Desa. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP