Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

1 Juli 2011

Ngelmu Pring (Falsafah Bambu)

Ada lagu bagus nih dari penyanyi beraliran hip-hop asal Jogja yang bernama Rotra. Judulnya Ngelmu Pring, kalau dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya Falsafah Bambu. Sesuai dengan judulnya, lirik lagu ini maknanya sangat bagus, tentang bambu dan segala manfaatnya dalam kehidupan bagi manusia, intinya semua yang ada pada bambu ada manfaatnya, begitupun manusia seharusnya bisa mencontoh tanaman yang termasuk rumput-rumputan ini.

pring reketeg gunung gamping ambrol,
ati kudu teteg ja nganti urip ketakol….
pring reketeg gunung gamping ambrol,
uripa sing jejeg nek ra eling jebol….

pring deling, tegese kendel lan eling…
kendel marga eling, timbang nggrundel nganti suwing
pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg…
rejeki seret, rasah dha buneg
pring ori, urip iku mati….
kabeh sing urip mesti bakale mati
pring apus, urip iku lampus…..
dadi wong urip aja seneng apus-apus
pring petung, urip iku suwung….
sanajan suwung nanging aja padha bingung
pring wuluh, urip iku tuwuh…
aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh
pring cendani, urip iku wani…
wani ngadepi, aja mlayu marga wedi
pring kuning, urip iku eling….
wajib padha eling, eling marang Sing Peparing

pring iku mung suket,
ning omah asale seka pring,
usuk seka pring,
cagak seka pring,
gedhek iku pring,
lincak uga pring,
kepang cetha pring,
tampare ya mung pring….
kalo, tampah, serok, asale seka pring….
pikulan, tepas, tenggok, digawe nganggo pring….
mangan enak, mancing iwak, walesane ya pring…
jangan bung, aku gandrung, jebule bakal pring…

nek ngono pancen penting, kabeh sing nang nggon wit pring
pancen penting tumraping manungsa sing dha eling
eling awake, eling pepadhane, eling patine, lan eling Gustine…
wong urip kudu eling, iso urip seka pring
tekan titi wancine ya digotong nganggo pring
bali nang ngisor lemah, padha ngisor oyot pring
mulane padha eling, elinga Sing Peparing….

ora bakal bubrah marga iso melur…
kena dinggo mikul, ning aja ketungkul
urip kuwi abot, ja digawe abot…
akeh repot, sak trek ora amot
mulane uripmu aja dha kaku….
melura, pasraha, ra sah dha nesu
aja mangu-mangu ning terus mlaku…
sanajan ro ngguyu aja lali wektu
kowe bakal bisa urip rekasa….
ning kudu percaya uga sregep ndonga
Gusti paringana, luwih pangapura…
marang kawula ingkang kathah lepat lan dosa
aja nggresula, aja wedi
dudu kowe, ning Gusti sing mesti luwih ngerti….
ngatur urip lan mati,
nyukupi rejeki,
paring tentreming ati,
cukup sandang pangan papan,
bakal mukti pakarti….


Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia :
*Pring = Bambu
Pring reketeg, gunung gamping (kapur) runtuh, hati harus tegar jangan sampai hidup
Pring reketeg, gunung gamping runtuh, hiduplah yang lurus kalau lupa jebol
Pring deling, artinya berani dan ingat, berani karena ingat, daripada menggerutu membuat bibir sumbing
Pring itu rumput(?), tinggi tapi lurus, rejeki pelan jangan pada sedih
Pring ori, hidup itu ujungnya mati, semua yang hidup pasti mati
Pring apus, hidup itu ujungnya mati, jadi orang hidup jangan suka berbohong
Pring petung, hidup itu gila, tapi meskipun gila, jangan pada bingung
Pring wuluh, hidup itu bertumbuh, jangan cuma ngga peduli, pura-pura tidak tahu
Pring cendani, hidup itu harus berani, berani menghadapi, jangan cuma lari ketakutan
Pring kuning, hidup itu harus ingat, wajib untuk ingat, ingat kepada Yang Memberi
Pring itu cuma rumput, tapi rumah itu dari bambu
rusuk rumah dari bambu, tiang juga dari bambu, gedheg itu bambu
lincak (kursibambu) juga bambu, kepang jelas bambu, tampare juga cuma dari bambu
kalo, tampah, serok asalnya bambu. pikulan, kipas, tempat nasi, dibuat dari bambu
makan enak atau mancing ikan, alas duduknya juga pakai bambu
jangan bung (sayur rebung), aku suka, ternyata juga bambu!
kalau begitu memang penting, semua bagian tanaman bambu
memang penting buat manusia yang mengingat
ingat diri sendiri, ingat sesamanya, ingat kehidupannya dan ingat Tuhannya
orang hidup harus ingat, bisa hidup dari bambu, sampai akhir hayat ya akhirnya diangkat pakai bambu (peti mati biasa diangkat pakai bambu kan..)
kembali ke dalam tanah, dibawah akar bambu, makanya ingatlah, ingat pada Yang Memberi
ngga bakal rusak karena bisa melar, bisa dipakai mikul, tapi jangan ketungkul
hidup itu udah berat, jangan dibikin tambah berat, kalo terlalu repot nanti satu truk ngga cukup
makanya hidupmu jangan kaku, melebarlah, berserahlah, jangan marah-marah
jangan termangu-mangu tapi terus berjalan, sambil tertawa, tapi jangan lupa waktu
kamu bakal hidup menderita, tapi tetap harus percaya dan rajin berdoa
Tuhan anugerahilah: lebih banyak maaf, kepada hamba yang banyak salah dan dosa
Janganlah menggerutu, jangan takut, bukan kamu tapi Tuhan yang pasti lebih tahu
Dia mengatur hidup dan mati, mencukupkan rejeki, memberikan ketentraman hati
cukup sandang pangan papan, bakal memberi pengertian

Notes:
- Pring reketeg itu frase bahasa jawa yang artinya bambu yang mengeluarkan bunyi mengerenyit, suaranya kedengaran seperti reketeg
- Pring deling, pring ori, pring apus, pring wuluh, pring petung, pring cendani, pring kuning adalah tipe-tipe bambu dalam bahasa jawa

Kalau mendengar lagu ini (dan mengetahui maknanya) pasti akan membuat kita selalu bersyukur dan lebih optimis dalam menjalani hidup. Semoga!!!

Link Download:
atau

30 Juni 2011

Poetry Battle: Ajang Apresiasi Sastra Ala Jogja Hip-Hop Foundation

Gara-gara dengerin MP3 dari ajang Poetry Battle, jadi pengen nulis soal Poetry Battle. Ajang Poetry Battle pertama kali digelar pada tahun 2006 di Jogja dan dilanjutkan dengan Poetry Battle 02 pada tahun 2008 di Jakarta.

Poetry Battle adalah proyek ekplorasi kelompok Jogja Hip Hop Foundation yang mempertemukan musik hip-hop dengan karya puisi Indonesia. Proyek ini merupakan bagian dari Printemp des Poètes, atau Musim Semi Para Penyair, event internasional tahunan, yang pertama kali diadakan di Prancis, dan digelar setiap bulan Maret.

Printemp des Poètes mempunyai misi untuk mempromosikan puisi dengan segala cara dan berbagai macam bentuk, mulai dari sebuah bacaan ke bentuk musik dan video, dari ruang kelas ke jalanan dan café, dari puisi tradisional kepada generasi muda. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah membuat puisi menjadi lebih terakses secara maksimal kepada publik sambil meruntuhkan batas-batas bahasa dan bentuk-bentuk kesenian yang membatasi ruang gerak puisi itu sendiri.

Selama ini kita, eh saya, sering menganggap karya sastra puisi itu adalah karya sastra "kelas tinggi", rumit, dan sulit dicerna. Padahal puisi merupakan salah satu bentuk hasil pemikiran manusia tentang apa yang terjadi di masa itu, yang seringkali tak lekang waktu dan terjadi berulang.

Di satu sisi, musik hip-hop dan rap identik dengan budaya jalanan, budaya selengekan. Padahal bila ditelusuri, musik hip-hop juga memiliki nafas yang hampir sama, menyuarakan ekspresi dan pemikiran hingga kritik sosial tentang apa yang terjadi.

Karena bernafas yang senada, maka menggabungkan dua dunia yang sekilas berbeda ini menjadi suatu karya yang lebih keren dan baru.

Puisi dan karya sastra yang di-rap-kan pun beragam aliran. Kata-kata dalam puisi diucapkan dalam gaya lagu bercakap alias talking song, sehingga seperti hanyut dalam luapan ekspresi seni bergaya jalanan.

Ada yang membawakan sajak-sajak bermuatan sosial yang dipenuhi kata-kata lantang, seperti puisi karya Widji Tukul dan Rama Sindhunata. Ada pula yang mencoba mengolah puisi liris yang punya gaya bahasa yang halus dan rumit, seumpama karya Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo, atau Cecep Syamsul Hari. Yang lebih sadis lagi, Kill The DJ (pendiri Jogja Hip Hop Foundation) mencoba mengulik sastra klasik dengan meng-hip-hop-kan Serat Centini karya pujangga Ranggawarsito, pujangga Keraton Surakarta awal abad ke-19.

Berbeda dengan gaya deklamasi, pembacaan teks puisi karya sastrawan Indonesia itu mengalir di atas panggung sebagai nyanyian yang hidup. Puisi keluar dari habitatnya sebagai teks yang konvensional dengan pakem pembacaan tertentu, lalu berubah menjadi pertunjukan seni yang sama sekali baru.

Lebih dari itu, "Poetry Battle" juga menerabas sekat-sekat seni, agama, ras, kelompok, atau etnis. Bahasa seni yang universal dimanfaatkan untuk membuka ruang dialog dan menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda.

"Puisi itu lapangan tafsir. Puisi dapat diterima dan diterjemahkan siapa pun dengan tingkat apresiasi bagaimana pun," komentar pengamat sastra dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, mengenai ajang ini.

Jika selama ini kita akrab dengan gaya Reda Gaudiamo dan Ari Malibu yang melantunkan sajak-sajak Sapardi Djoko Damono dalam suasana sendu, kini kita bisa menikmati gaya anak muda yang meneriakkan puisi dengan lebih bebas, gembira, dan dengan irama musik yang merangsang goyang.

Selamat menikmati.

Gratis!!

Daftarkan email Anda dan dapatkan artikel menarik setiap harinya.

Recent Articles

© 2014 Blog Anak Desa. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP